Rabu, 21 Maret 2012

Konser Bagi Pemuda


Jakarta, 29 Oktober 2008. Pukul 17:30 Balai Kartini yang bertempat di Kuningan Jakarta mulai disesaki para penonton yang ingin menyaksikan konser musik klasik yang di bawakan oleh Twilite Orchestra pimpinan Addie MS. Saya bersama dua reporter lainnya menyelusup kearah kerumunan manusia yang terlihat sangat antusias. Beberapa menit kemudian kami dapat bernafas lega sebab telah berhasil memasuki ruangan Balai Kartini. Dekorasi menyerupai langit malam yang dihiasi lampu-lampu layaknya bintang membentuk cahaya remang. Sangat elegan. Pukul 20:00 tepat, konser dimulai. Tiba-tiba suara lantang Bung Karno mengejutkan saya yang saat itu mengambil tempat duduk di tengah dimana layar TV besar berdiri gagah didepan saya, walau akhirnya menyerobot tempat duduk media yang kosong akibat tidak datang. Suara lantang tersebut membacakan Proklamasi dengan berwibawa dan sangat nasionalis. Film documenter mengenai perjuangan pemuda yang mendesak agar proklamasi segera dikumandangkan menjadi hidangan perdana. Pukul 20:15 karya WR. Supratman diperdengarkan. Indonesia Raya dikumandangkan. Semua yang hadir berdiri, hikmat dan terbuai dalam bait-bait dan alunan music yang pernah menggetarkan pemuda angkatan ’28. Pemuda yang berhasil menyatakan multikulturalisme harus tumbuh di bumi pertiwi, pemuda yang mampu membuat merah putih berdiri dan lagu Indonesia Raya menjadi pegangan nasionalisme para anak bangsa.

Sesaat kemudian penonton kembali duduk, suasana menjadi hening. Syaraf-syaraf di otak saya dikejutkan oleh alunan biola dan perangkat orkestra lainnya yang tidak saya kenal. Nada-nada mulai disinkronisasikan, harmoni indah diciptakan, sebuah lagu berjudul Pomp Circumstance March No. 1 dimainkan. “Farewell the nighing steed and the shrill trump, the spirit-stirring drum, the ear-piercing fife, the royal banner and all quality, pride, pomp and circumstance of glorious war”, penggalan kalimat yang diambil dari drama “Othello” karya Shakespeare menjadi inspirasi terjadinya lagu yang diciptakan oleh Edward Elgar menjadi sambutan awal setelah karya WR. Supratman didahulukan yang dipersembahkan Twilite Orchestra untuk Balai Kartini. Karya yang mendapat apresiasi tinggi dari Raja Edward VII ini merupakan penggambaran cinta tanah air sang komponis serta dipersembahkan untuk bangsa Inggris yang bergembira atas hasil akhir perang Boer (di Afrika Selatan). Sepuluh menit berlalu, tepuk tangan kembali riuh terdengar, rasa puas lagi-lagi terpancar dari wajah-wajah berseri Balai Kartini. Dan, kami tidak dibiarkan menunggu lama untuk merasakan kembali perasaan tersebut, Academic Festival Overture, Op. 80 dimainkan. Buah karya seorang Johannes Brahms (1880) ini dibuat sebagai ucapan terima kasih kepada Universitas Breslau yang telah memberikannya gelar Doktor honoris causa pada tahun 1879. Karya ini dirangkai melalui sejumlah lagu-lagu mahasiswa (yang terkenal saat itu) dalam struktur yang santai namun berteknik tinggi. Sangat Johannes Brahms. Dan bagian yang paling ditunggu-tunggu para pecinta musik klasik adalah “Gaudeamus Igitur”, bagian yang masih terdengar asing ditelinga mahasiswa Indonesia termasuk saya. 

Berdasarkan dari sejarah pembuatan lagu tersebut, para pemuda sudah patutnya berbangga, mereka dihargai lewat lantuna-lantunan nada yang berfilosofis rasa terima kasih seorang maestro terhadap hal-hal yang dicintai dan dihormatinya. Hal tersebut adalah wajar jika ditujukan kepada para pemuda angakatan ’28 dan pemuda lainnya yan telah berkarya, tetapi untuk yang belum melakukan apa-apa? Yang jelas ekspektasinya adalah karya yang mampu membuat dunia tercengang, yang membuat bumi pertiwi menangis haru dan bangga pada segenap tumpah darahnya, yang membuat bangsa ini tetap menyandang kata “merdeka”. Slide-slide yang ditampilkan pada TV besar tepat didepan saya yang menurut saya lebih mirip layar tancap mini karena resolusinya yang tidak terlalu bagus membuat mata saya dan para penonton yang hadir menjadi berkaca-kaca. Pada slide-slide tersebut diuraikan lewat gambar-gambar pemuda Indonesia dari lampau hingga kini, dari yang membawa bedil hingga trophi dan karangan bunga. Slide tersebut juga menampilkan mimpi-mimpi dan harapan bangsa yang mulai renta yang kini ingin duduk tenang dikursi goyangnya dan menyaksikan atraksi-atraksi pemuda yang bergelimangan karya, tetapi mungkin bangsa yang tua ini masih harus menunggu beberapa lama lagi sebab para pemuda yang diharapkannya masih lelap tertidur dan entah kapan akan terbangun. Sesuai dengan sejarah lagu yang dimainkan, slide diakhiri dengan kalimat “Terima Kasih Pemuda Indonesia”.

Lima menit bersela, biola kembali digesek, harmoni kembali tercipta, Bangun Pemudi Pemuda dilantunkan bertujuan membakar darah para pemuda bangsa agar bangun dan berkarya

Saya perhatikan suasana Balai Kartini yang telah disulap menjadi pemandangan malam hari yang memukau dengan menitikberatkan pusat perhatian pada seorang muda berbakat dan terlihat tampan dengan balutan tuxedo dikulitnya yang langsat. Addie MS namanya, seorang konduktor dan pengarah musik berbakat yang dipunyai Indonesia dengan segudang prestasi yang mengikutinya, hingga kini. Adalah Indra U Bakrie dan Oddi Agam bersama Addie membangun Twilite Orchestra pada tahun 1991 silam. Melalui orkestra ini seorang Addie tampil dikalangan anak-anak muda baik di sekolah maupun dikampus demi memberikan program apresiasi musik dengan konser simfonik dan string ensemble disertai dialog interaktif dan mensosialisasikan bahwa pandangan musik orkestra hanya untuk kaum tua adalah salah, Twilite tampil sebagai genre musik yang berdiri untuk kaum muda.

“Musicademia merupakan salah satu program edukasional yang dibawakan Twilite Orchestra setiap tahunnya semenjak tahun 2000 didukung oleh “Sampoerna untuk Indonesia” , ujarnya berkarisma. “Konser ini diadakan sebagai simbol rasa terima kasih kepada pemuda angkatan ’28 yang telah mendklarasikan sumpah pemuda dan menyingkirkan ego kedaerahan serta bersatu dalam merah putih juga tidak lupa untuk pemuda-pemuda masa kini yang telah berkarya dan menorehkan tinta emas maupun perak tingkat dalam maupun luar negeri”, lanjutnya.

Pembacaan Teks Sumpah Pemuda
Empat orang dengan 5 jenis vokal yang berbeda karakter muncul dari balik layar. Mereka berdiri tegap dan gagah layaknya anggota paskibraka yang biasa saya lihat sewaktu SMA. 4 orang yang pastinya tidak asing bagi penonton termasuk saya yang gemar menonton TV menyebut diri mereka Idol Divo, mengadopsi kwartet dari latin yaitu Il Divo. Adalah Delon, Lucky, Mike dan Judika. mereka tampak gagah dibalut jas hitam dan peci dengan warna senada kepala lengkap dengan selempang merah putih dipundak kanan layaknya seorang finalis Putri Indonesia. Untuk pembukaan mereka mengajak audiens untuk berdiri dan membacakan Teks Sumpah Pemuda, Dalam sekejap TV besar dihadapan saya langsung menampilkan teks tersebut, tersenyumlah penonton yang tidak hafal isinya atau selalu terbalik dalam membacakannya karena tertolong teknologi tinggi yang merupakan penentu tingkat peradaban manusia. Satu persatu butir-butir sumpah di bacakan secara bergantian oleh para Idol. Prosesi pembacaan yang hikmat membawa saya pada masa 80 th silam, dimana hanya untuk menghasilkan sebuah teks yang bahkan panjangnya tidak mencapai 1 halaman saja, harus pertaruhkan segala, Teks tersebut terasa begitu sakti, setidaknya itu yang dirasakan para pemuda 80tahun silam. Tidak sampai 5 menit pembacaan selesai, para Idol berbalik dan kembali kebelakang stage, tinggallah saya dan para penonton terduduk diam dengan tafsiran masing-masing mengenai arti sumpah yang tadi dibacakan serentak, yang secara sadar ataupun tidak pasti akan diminta pertanggung jawabannya.

Musik kembali mengalun, Indonesia Pusaka dinyanyikan oleh seorang solis muda berbakat bernama Daniel Christianto, suaranya yang merdu mengiringi slide-slide yang menggambarkan daerah-daerah di Indonesia membuat saya (penulis) dan mereka (penonton) serasa berkeliling dari sabang hingga merauke. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah Nasionalisme dan Multikulturalisme. Sepuluh menit bersela, penampil lain selain Daniel bermunculan satu per satu, diantaranya adalah Lea Simanjuntak, Levi Gunardi dan Johannes S. Nugroho. Mereka mempersembahkan lagu-lagu yang membuat pendengarnya nyata-nyata sadar bahwa harapan Indonesia untuk maju dibawah tangan pemda tetap akan selalu ada. Hingga sampailah pada Sabre Dance. Lagu yang tidaklah asing bagi pecinta music klasik, satu-satunya lagu klasik yang familiar di telinga saya sebagai awam. Lagu yang saya kenal lewat film kartun kalsik Walt Disney ini adalah music yang dinamis, penuh imajinasi dan yang pertama kali terlintas di benak saya saat mendengarkannya adalah Tom & Jerry. Terlepas dari khayalan saya, kondisi Balai Kartini yang selama 30 menit menggebu-gebu dan hikmat berganti menjadi lebih santai. Atraksi yang dimainkan violis dan sang konduktor menggugah syaraf tawa penonton termasuk saya.

Lima belas menit berlalu, Sebre Dance selesai, paduan suara Mahasiswa tidak mau kalah dengan penampil lainnya, Medley lagu daerah dan Festive Overture, Op. 96 menjadi penutup. Acara selesai, semua penampil menyeruak keluar dari balik layar mengajak semua yang hadir berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan yang sedang popular saat ini. Padamu Negeri. Terlepas dari hafal ataupun tidak, terlepas dari kalangan mana anda berasal, terlepas dari suku mana anda dibesarkan, Padamu Negeri, Jiwa Raga Kami.

Siapa Pemuda Indonesia?
“Indonesia teenagers are the best one in the world, they are the greatest survival and I believe they can bring Indonesia into better future”, ujar Martin King saat saya wawancarai usai pertunjukan. “Through better modern education, Indonesia will have strong teenage”, lanjutnya. Sedikit mengejutkan mendengar pendapat seorang foreign mengenai pemuda Indonesia, saya bertanya hingga dua kali dan dua kali pula ia menegaskannya. Hal ini membuktikan bahwa image pemuda Indonesia di mata dunia perlahan-lahan membaik, walaupun kini masih kita jumpai wajah-wajah muda yang etnosentris dan individualis, namun bukan tidak mungkin jika perbaikan akan mengambil alih semuanya. Karya dan prestasi, itulah yang kini dinanti-nanti. Dan ini adalah karya pertama saya, harapan selanjutnya andalah yang berkarya. What you waiting for?  



[Naskah original: Dipublikasikan di majalah PARMAGZ Volume 1 th, 2008 yang merupakan pers kampus, Universitas Paramadina]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar