Jakarta,
29 Oktober 2008. Pukul 17:30
Balai Kartini yang bertempat di Kuningan Jakarta mulai disesaki para penonton
yang ingin menyaksikan konser musik klasik yang di bawakan oleh Twilite
Orchestra pimpinan Addie MS. Saya bersama dua reporter lainnya menyelusup kearah
kerumunan manusia yang terlihat sangat antusias. Beberapa menit kemudian kami
dapat bernafas lega sebab telah berhasil memasuki ruangan Balai Kartini.
Dekorasi menyerupai langit malam yang dihiasi lampu-lampu layaknya bintang
membentuk cahaya remang. Sangat elegan. Pukul 20:00 tepat, konser dimulai.
Tiba-tiba suara lantang Bung Karno mengejutkan saya yang saat itu mengambil
tempat duduk di tengah dimana layar TV besar berdiri gagah didepan saya, walau
akhirnya menyerobot tempat duduk media yang kosong akibat tidak datang. Suara
lantang tersebut membacakan Proklamasi dengan berwibawa dan sangat nasionalis.
Film documenter mengenai perjuangan pemuda yang mendesak agar proklamasi segera
dikumandangkan menjadi hidangan perdana. Pukul 20:15 karya WR. Supratman
diperdengarkan. Indonesia Raya dikumandangkan. Semua yang hadir berdiri, hikmat
dan terbuai dalam bait-bait dan alunan music yang pernah menggetarkan pemuda
angkatan ’28. Pemuda yang berhasil menyatakan multikulturalisme harus tumbuh di
bumi pertiwi, pemuda yang mampu membuat merah putih berdiri dan lagu Indonesia
Raya menjadi pegangan nasionalisme para anak bangsa.
Sesaat kemudian
penonton kembali duduk, suasana menjadi hening. Syaraf-syaraf di otak saya
dikejutkan oleh alunan biola dan perangkat orkestra lainnya yang tidak saya
kenal. Nada-nada mulai disinkronisasikan, harmoni indah diciptakan, sebuah lagu
berjudul Pomp Circumstance March No. 1 dimainkan. “Farewell the nighing steed
and the shrill trump, the spirit-stirring drum, the ear-piercing fife, the
royal banner and all quality, pride, pomp and circumstance of glorious war”,
penggalan kalimat yang diambil dari drama “Othello” karya Shakespeare menjadi
inspirasi terjadinya lagu yang diciptakan oleh Edward Elgar menjadi sambutan awal
setelah karya WR. Supratman didahulukan yang dipersembahkan Twilite Orchestra
untuk Balai Kartini. Karya yang mendapat apresiasi tinggi dari Raja Edward VII
ini merupakan penggambaran cinta tanah air sang komponis serta dipersembahkan
untuk bangsa Inggris yang bergembira atas hasil akhir perang Boer (di Afrika
Selatan). Sepuluh menit berlalu, tepuk tangan kembali riuh terdengar, rasa puas
lagi-lagi terpancar dari wajah-wajah berseri Balai Kartini. Dan, kami tidak
dibiarkan menunggu lama untuk merasakan kembali perasaan tersebut, Academic
Festival Overture, Op. 80 dimainkan. Buah karya seorang Johannes Brahms (1880)
ini dibuat sebagai ucapan terima kasih kepada Universitas Breslau yang telah
memberikannya gelar Doktor honoris causa pada tahun 1879. Karya ini dirangkai
melalui sejumlah lagu-lagu mahasiswa (yang terkenal saat itu) dalam struktur
yang santai namun berteknik tinggi. Sangat Johannes Brahms. Dan bagian yang
paling ditunggu-tunggu para pecinta musik klasik adalah “Gaudeamus Igitur”,
bagian yang masih terdengar asing ditelinga mahasiswa Indonesia termasuk saya.
Berdasarkan dari sejarah pembuatan lagu tersebut, para pemuda sudah patutnya
berbangga, mereka dihargai lewat lantuna-lantunan nada yang berfilosofis rasa
terima kasih seorang maestro terhadap hal-hal yang dicintai dan dihormatinya.
Hal tersebut adalah wajar jika ditujukan kepada para pemuda angakatan ’28 dan
pemuda lainnya yan telah berkarya, tetapi untuk yang belum melakukan apa-apa?
Yang jelas ekspektasinya adalah karya yang mampu membuat dunia tercengang, yang
membuat bumi pertiwi menangis haru dan bangga pada segenap tumpah darahnya,
yang membuat bangsa ini tetap menyandang kata “merdeka”. Slide-slide yang
ditampilkan pada TV besar tepat didepan saya yang menurut saya lebih mirip
layar tancap mini karena resolusinya yang tidak terlalu bagus membuat mata saya
dan para penonton yang hadir menjadi berkaca-kaca. Pada slide-slide tersebut
diuraikan lewat gambar-gambar pemuda Indonesia dari lampau hingga kini, dari
yang membawa bedil hingga trophi dan karangan bunga. Slide tersebut juga
menampilkan mimpi-mimpi dan harapan bangsa yang mulai renta yang kini ingin
duduk tenang dikursi goyangnya dan menyaksikan atraksi-atraksi pemuda yang
bergelimangan karya, tetapi mungkin bangsa yang tua ini masih harus menunggu
beberapa lama lagi sebab para pemuda yang diharapkannya masih lelap tertidur
dan entah kapan akan terbangun. Sesuai dengan sejarah lagu yang dimainkan,
slide diakhiri dengan kalimat “Terima Kasih Pemuda Indonesia”.
Lima menit
bersela, biola kembali digesek, harmoni kembali tercipta, Bangun Pemudi Pemuda
dilantunkan bertujuan membakar darah para pemuda bangsa agar bangun dan
berkarya
Saya perhatikan
suasana Balai Kartini yang telah disulap menjadi pemandangan malam hari yang
memukau dengan menitikberatkan pusat perhatian pada seorang muda berbakat dan
terlihat tampan dengan balutan tuxedo dikulitnya yang langsat. Addie MS
namanya, seorang konduktor dan pengarah musik berbakat yang dipunyai Indonesia
dengan segudang prestasi yang mengikutinya, hingga kini. Adalah Indra U Bakrie
dan Oddi Agam bersama Addie membangun Twilite Orchestra pada tahun 1991 silam.
Melalui orkestra ini seorang Addie tampil dikalangan anak-anak muda baik di
sekolah maupun dikampus demi memberikan program apresiasi musik dengan konser
simfonik dan string ensemble disertai dialog interaktif dan mensosialisasikan
bahwa pandangan musik orkestra hanya untuk kaum tua adalah salah, Twilite
tampil sebagai genre musik yang berdiri untuk kaum muda.
“Musicademia merupakan salah
satu program edukasional yang dibawakan Twilite Orchestra setiap tahunnya
semenjak tahun 2000 didukung oleh “Sampoerna untuk Indonesia” , ujarnya
berkarisma. “Konser ini diadakan sebagai simbol rasa terima kasih kepada pemuda
angkatan ’28 yang telah mendklarasikan sumpah pemuda dan menyingkirkan ego
kedaerahan serta bersatu dalam merah putih juga tidak lupa untuk pemuda-pemuda
masa kini yang telah berkarya dan menorehkan tinta emas maupun perak tingkat
dalam maupun luar negeri”, lanjutnya.
Pembacaan
Teks Sumpah Pemuda
Empat orang
dengan 5 jenis vokal yang berbeda karakter muncul dari balik layar. Mereka berdiri
tegap dan gagah layaknya anggota paskibraka yang biasa saya lihat sewaktu SMA. 4
orang yang pastinya tidak asing bagi penonton termasuk saya yang gemar menonton
TV menyebut diri mereka Idol Divo, mengadopsi kwartet dari latin yaitu Il Divo.
Adalah Delon, Lucky, Mike dan Judika. mereka tampak gagah dibalut jas hitam dan
peci dengan warna senada kepala lengkap dengan selempang merah putih dipundak
kanan layaknya seorang finalis Putri Indonesia. Untuk pembukaan mereka mengajak
audiens untuk berdiri dan membacakan Teks Sumpah Pemuda, Dalam sekejap TV besar
dihadapan saya langsung menampilkan teks tersebut, tersenyumlah penonton yang
tidak hafal isinya atau selalu terbalik dalam membacakannya karena tertolong
teknologi tinggi yang merupakan penentu tingkat peradaban manusia. Satu persatu
butir-butir sumpah di bacakan secara bergantian oleh para Idol. Prosesi
pembacaan yang hikmat membawa saya pada masa 80 th silam, dimana hanya untuk
menghasilkan sebuah teks yang bahkan panjangnya tidak mencapai 1 halaman saja,
harus pertaruhkan segala, Teks tersebut terasa begitu sakti, setidaknya itu
yang dirasakan para pemuda 80tahun silam. Tidak sampai 5 menit pembacaan
selesai, para Idol berbalik dan kembali kebelakang stage, tinggallah saya dan para
penonton terduduk diam dengan tafsiran masing-masing mengenai arti sumpah yang
tadi dibacakan serentak, yang secara sadar ataupun tidak pasti akan diminta
pertanggung jawabannya.
Musik kembali
mengalun, Indonesia Pusaka dinyanyikan oleh seorang solis muda berbakat bernama
Daniel Christianto, suaranya yang merdu mengiringi slide-slide yang
menggambarkan daerah-daerah di Indonesia membuat saya (penulis) dan mereka
(penonton) serasa berkeliling dari sabang hingga merauke. Tujuannya tak lain
dan tak bukan adalah Nasionalisme dan Multikulturalisme. Sepuluh menit bersela,
penampil lain selain Daniel bermunculan satu per satu, diantaranya adalah Lea
Simanjuntak, Levi Gunardi dan Johannes S. Nugroho. Mereka mempersembahkan
lagu-lagu yang membuat pendengarnya nyata-nyata sadar bahwa harapan Indonesia
untuk maju dibawah tangan pemda tetap akan selalu ada. Hingga sampailah pada
Sabre Dance. Lagu yang tidaklah asing bagi pecinta music klasik, satu-satunya
lagu klasik yang familiar di telinga saya sebagai awam. Lagu yang saya kenal
lewat film kartun kalsik Walt Disney ini adalah music yang dinamis, penuh
imajinasi dan yang pertama kali terlintas di benak saya saat mendengarkannya
adalah Tom & Jerry. Terlepas dari khayalan saya, kondisi Balai Kartini yang
selama 30 menit menggebu-gebu dan hikmat berganti menjadi lebih santai. Atraksi
yang dimainkan violis dan sang konduktor menggugah syaraf tawa penonton
termasuk saya.
Lima belas
menit berlalu, Sebre Dance selesai, paduan suara Mahasiswa tidak mau kalah
dengan penampil lainnya, Medley lagu daerah dan Festive Overture, Op. 96
menjadi penutup. Acara selesai, semua penampil menyeruak keluar dari balik
layar mengajak semua yang hadir berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan yang
sedang popular saat ini. Padamu Negeri. Terlepas dari hafal ataupun tidak,
terlepas dari kalangan mana anda berasal, terlepas dari suku mana anda
dibesarkan, Padamu Negeri, Jiwa Raga Kami.
Siapa
Pemuda Indonesia?
“Indonesia teenagers are the best one in the world,
they are the greatest survival and I believe they can bring Indonesia into better
future”, ujar Martin King
saat saya wawancarai usai pertunjukan. “Through
better modern education, Indonesia will have strong teenage”, lanjutnya.
Sedikit mengejutkan mendengar pendapat seorang foreign mengenai pemuda
Indonesia, saya bertanya hingga dua kali dan dua kali pula ia menegaskannya.
Hal ini membuktikan bahwa image pemuda Indonesia di mata dunia perlahan-lahan
membaik, walaupun kini masih kita jumpai wajah-wajah muda yang etnosentris dan
individualis, namun bukan tidak mungkin jika perbaikan akan mengambil alih
semuanya. Karya dan prestasi, itulah yang kini dinanti-nanti. Dan ini adalah
karya pertama saya, harapan selanjutnya andalah yang berkarya. What you waiting
for?
[Naskah original: Dipublikasikan di majalah PARMAGZ Volume 1 th, 2008 yang merupakan pers kampus, Universitas Paramadina]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar