Akhir-akhir ini ia kerap menemukan dirinya telanjang tanpa sehelai kainpun menutupi bagian-bagian intim dari tubuhnya. Dia telanjang. Ya, telanjang.
Suara di dalam, tak dihirau badan. Ia tetap telanjang.
Bahkan angin yang begitu kencang, menyapa dengan dingin. Seraya membawa antu angin bersamanya. Gigil, menggigil. Namun ia tetap telanjang.
Ke-taksingkron-an antara suara di dalam dan badan, membuat pusing dan uring isi otak. Pembuluh darah bergejolak, menyembul di tiap pusat-pusatnya. Membentuk garis merah nyaris biru. Semua mengalir tak tentu. Darah. Tetapi ia tetap telanjang.
Sementara diam masih menunggu.
Helai kain hangat yang bersedia mendamaikan antara suara di dalam, isi otak, dan tubuhnya yang telanjang.
Sabtu, 28 Desember 2013
Jumat, 27 Desember 2013
M-A-K-A-N
Satu sendok makan kuah dimasukkan ke mulut. Tanpa perlu kunyah langsung terjun bebas menuju lambung.
Hangat dan gurih.
Menjepit gagah kumpulan mie di antara sumpit. Masuk ke dalam mulut. Dikunyah dengan lembut, lalu menerjunkannya ke lambung lewat rongga tenggorokan.
Kenyang.
Masihkah kau mengingatnya sayang?
Mie ayam itu, saksi kecintaanmu padaku.
Hangat dan gurih.
Menjepit gagah kumpulan mie di antara sumpit. Masuk ke dalam mulut. Dikunyah dengan lembut, lalu menerjunkannya ke lambung lewat rongga tenggorokan.
Kenyang.
Masihkah kau mengingatnya sayang?
Mie ayam itu, saksi kecintaanmu padaku.
Ke-taksengaja-an yg disengaja
Aku bertemu dengannya tanpa sengaja. Bukan berpapasan, atau salah tegur yang berujung pada sebuah nama. Bukan. Tapi, percayakah kalian bahwasanya mulut ini tanpa sengaja menyebut namanya? Bahkan tanpa pikir panjang.
Tak lapuk nama itu justru menjadi sekuat kayu ulin.
Ya, selama kaki ini berpijak pada sebuah menara tinggi dan dingin tak lagi ia bergumul dengan bahasa dan pergolakan makna dibaliknya. Dan setelah ke-taksengaja-an itu terjadi, entah mengapa ada yang memanggil lagi. Memanggil jemari untuk menari di atas keyboard laptopku. Membuka file word yang kosong dan mengisinya dengan Arial Narrow yang kusuka. Hingga huruf-huruf acak menjelma menjadi rangkaian kata. Seakan melakukan pemanasan, beragam isi kepala tercurah. Layaknya anak SMA yang kembali menemukan gairah berhitung aritmatika ditengah bingar pergaulan remaja.
Dengan begitu ku aktifkan lagi blog ku. Melakukan penjajakan ulang dan pelan-pelan bercengkrama dengan bahasa mesin yang telah disederhanakan penyelenggara. Ini seakan memutar roda waktu. Kembali ke masa dulu. Masa di mana keceriaan bukanlah sekedar popcorn dan hangout, tapi menulis hal-hal seru yang terlintas di benak. Hingga malam ini aku pun mengetik lagi. Lama sekali tak bersua sosok inspiratif yang mampu menggerakan jemari ini untuk berolahraga. Serta rasa ini untuk kembali berolah jiwa.
Untuk itu terima kasih aku haturkan untuknya.
Tak lapuk nama itu justru menjadi sekuat kayu ulin.
Ya, selama kaki ini berpijak pada sebuah menara tinggi dan dingin tak lagi ia bergumul dengan bahasa dan pergolakan makna dibaliknya. Dan setelah ke-taksengaja-an itu terjadi, entah mengapa ada yang memanggil lagi. Memanggil jemari untuk menari di atas keyboard laptopku. Membuka file word yang kosong dan mengisinya dengan Arial Narrow yang kusuka. Hingga huruf-huruf acak menjelma menjadi rangkaian kata. Seakan melakukan pemanasan, beragam isi kepala tercurah. Layaknya anak SMA yang kembali menemukan gairah berhitung aritmatika ditengah bingar pergaulan remaja.
Dengan begitu ku aktifkan lagi blog ku. Melakukan penjajakan ulang dan pelan-pelan bercengkrama dengan bahasa mesin yang telah disederhanakan penyelenggara. Ini seakan memutar roda waktu. Kembali ke masa dulu. Masa di mana keceriaan bukanlah sekedar popcorn dan hangout, tapi menulis hal-hal seru yang terlintas di benak. Hingga malam ini aku pun mengetik lagi. Lama sekali tak bersua sosok inspiratif yang mampu menggerakan jemari ini untuk berolahraga. Serta rasa ini untuk kembali berolah jiwa.
Untuk itu terima kasih aku haturkan untuknya.
Kamis, 26 Desember 2013
???????
Ada suara yang terus terdengar di telinga saya....
Berdengung bagai alunan baja yang sedang digodok pandai besi
di tepi jalan pada abad pertengahan...
terasa sangat penuh dengan peluh dan perjuangan,
namun juga sangat berisik!!
Ketenangan tak bisa kudapatkan, sebab lingkaran kehidupan berjalan karena kebisingan..
Apakah sekarang aku sedang bingung, sayang
ditulis:
Antara kebingunganku,
dan kemisteriusannya...
Berdengung bagai alunan baja yang sedang digodok pandai besi
di tepi jalan pada abad pertengahan...
terasa sangat penuh dengan peluh dan perjuangan,
namun juga sangat berisik!!
Ketenangan tak bisa kudapatkan, sebab lingkaran kehidupan berjalan karena kebisingan..
Apakah sekarang aku sedang bingung, sayang
ditulis:
Antara kebingunganku,
dan kemisteriusannya...
Langganan:
Postingan (Atom)