Sabtu, 31 Maret 2012

Harajuku Style; Kreatifitas dan Pemberontakan

gambar: beritaunik.com
Jepang, dalam dunia fashion telah dikenal sebagai salah satu negara yang diperhitungkan. Style atau mode yang dikembangkan negeri sakura ini tergolong unik dan elegan. Walaupun kesan Western masih terlihat pada busana tertentu, contohnya pengunaan coat dengan long blazer style dan gaya victorian. Di dalam game fashion, Jojo's Fashion, model victorian yang diadaptasi pemuda pemudi Jepang, dinamakan dengan fashion Tokyo Street. Style ini merupakan campuran gaya individualist masyarakat Tokyo dengan gaya Barat dan tradisional. Tokyo Street umumnya memadukan unsur hip-hop, punk dan gothic.


Selain Tokyo Street yang diperkenalkan game Jojo's Fashion, salah satu style yang juga menjadi perhatian dunia mode adalah Harajuku Style. Harajuku merupakan style yang diperkenalkan anak muda Jepang yang masih berbasis di kota Tokyo distrik Harajuku. Lokasi Harajuku meliputi sekitar Kuil Meiji, Taman Yoyogi, pusat perbelanjaan Jalan Takeshita, departemen store Laforet dan Gimnasium Nasional Yoyogi. 

Pada awalnya, para anak muda dan remaja seringkali berkumpul di taman Yoyogi dan kafe Omotesando. Namun setelah kafe tersebut tidak ada, maka para pemuda berkumpul di sepanjang jalan. Mereka berkumpul dengan menunjukkan hasil karya rancangan sendiri. Dari kreatifitas tersebut, maka muncullah banyak model-model pakaian yang tidak seperti biasanya namun sangat modis. 

gambar: amaragunawan.wordpress.com

Style Harajuku menjadi terkenal pada era 1980-an. Style ini mirip dengan Tokyo Street yang digambarkan Jojo' Fashion Game. Aspek gothic masih masuk dalam pilihan pemuda Harajuku. Selain itu, benturan budaya juga terjadi. Seperti memadukan busana tradisional Jepang dengan kreatifitas pemuda yang cenderung rebelian. Unsur busana anime (Coseplayer) juga kerap ditemukan. Keberanian dalam mengeksplor warna dan model pakaian, menjadi kreatifitas tersendiri pemuda Harajuku. Tak ayal tempat ini selain menjadi meeting point, juga menjadi tempat  yang banyak dikunjungi wisatawan.


gambar: beritaunik.com
Media berbahasa asing bahkan telah menggunakan istilah "Gadis Harajuku" untuk menggambarkan remaja yang berbalut busana Harajuku. Mode yang digunakan pemudi Harajuku dipengarungi oleh bentuk gaun dengan memberi sentuhan kreatif. Gaya yang dipopulerkan salah satunya ialah Kawaii. Style ini sangat populer pada era 1990-an. Kawaii menjadi suatu ungkapan populer yang diartikan sebagai sesuatu yang lucu atau cantik. Kawaii merepresentasikan perlawanan anak muda melalui busana. Ide dari style ini adalah untuk menunjukkan budaya yang berbeda dan terpisah dari budaya tradisional. Style ini menjadi genre bagi kelompok cyber punk untuk menunjukkan dirinya. Victorian style yang cenderung gothic dengan perpaduan warna-warna yang terang dan metalik. Namun, style seperti ini mulai meredup dan tidak sepopuler era 1990-an.


Kamis, 22 Maret 2012

Berkarya Melalui Film Film Islami Sebagai Media Kreasi Pemuda Islam


gambar: ivanthalib.blogspot.com
Generasi muda Islam merupakan tonggak utama dalam menegakkan kedaulatan Islam. Sebagai penerus garis peradaban, sudah semestinya para pemuda Islam memiliki kreatifitas baik dari segi perbuatan atau tindakan maupun cara pandang dan berpikir. Kreatifitas merupakan salah satu aspek penentu dinamika Islam yang progresif dan konstruktif. Aktivitas yang dinamis tersebut salah satunya adalah dalam berkesenian yang masuk dalam kategori budaya. Film sebagai salah satu representasi produk kreatif unik, adalah yang sekarang banyak diperbincangkan. Hal tersebut dikarenakan masih kontroversialnya pemikiran umat Islam dalam memandang film sebagai media kreasi yang sarat sisi edukasi.
Pemuda Islam mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan arah sikap dan pemikiran Islam terhadap seni dalam hal ini film. Yang menjadi perdebatan sekarang ini adalah sikap umat Islam dalam memandang sebuah seni. Apakah memang agama yang universal ini benar-benar melarang eksistensi film? Jika demikian mengapa film itu sendiri tercipta? Atau memang segala sesuatu yang diciptakan Allah sejatinya adalah baik, namun manusia sebagai makhluk merdeka yang lebih mempunyai peran dalam menentukan suatu hal menjadi baik atau buruk. Film sendiri sebagai suatu karya seni, merupakan produk kreatif yang tercipta atas izin Tuhan, lalu mengapa harus dihindari kendati perkembangannya amatlah cepat.
Untuk itu perdebatan haruslah dihindari dan lebih mengutamakan solusi. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah para pemuda Islam mau bertindak kreatif dan berfikir positif terhadap film? Dengan demikian, film bukan lagi menjadi alat propaganda negatif kelompok tertentu tetapi media kreasi pemuda Islam itu sendiri dalam membangun umat yang lebih progresif dan dinamis.
Islam dan Seni
Seni sebagai wadah definisi manusia dalam berekspresi menjadi hal yang tabu dan kotroversial bagi beberapa kelompok umat Islam. Hal tersebut karena sisi kebebasan yang kadangkala diekspresikan berlebih dan cenderung merusak akhlak. Dengan demikian sebagai penerus tongkat estafet, para pemuda Islam harus mampu mendudukan masalah dan melihat definisi seni dalam Islam itu sendiri.
Professor Quraish Shihab dalam makalah seminar mengenai Islam dan kesenian menyatakan, seorang Muslim diberikan kebebasan sebebas-bebasnya untuk memilih objek dan cara menampilkan seni. Menurut beliau setiap lapangan seni Islami adalah semua wujud. Manusia dapat menggambarkan kenyataan yang hidup sesuai ruang dan waktu, boleh memadukan dengan apa saja dan boleh berimajinasi. Tetapi dengan catatan bahwa jangan sampai bertentangan dengan fitrah atau pandangan Islam mengenai wujud itu sendiri. (Quraish Shihab, Islam dan Kesenian, dalam Islam & Kesenian, Majelis Kebudayaan Muhammadiyah, 1995).
Berdasarkan uraian tersebut di atas, Islam sejatinya mendukung seni selama implementasinya baik. Pengolahan seni menjadi barang yang bermanfaat menjadi penting karena mampu mengarahkan seni kepada pengertian Islam yakni berekspresi dengan mengindahkan pandangan Islam akan seni itu sendiri. Pandangan tersebut mungkin dapat diartikan dengan ekspresi seni yang tidak berlebihan dan tidak mengganggu manusia lainnya di dunia.
Sedangkan menurut Muhammad Quthb, kesenian tidak harus berbicara mengenai Islam, tidak harus berupa nasehat langsung atau anjuran berbuat kebajikan, bukan pula penampilan abstrak tentang akidah. Seni yang Islami adalah seni yang menggambarkan wujud keislaman dengan bahasa yang indah serta sesuai dengan cetusan fitrah. Kesenian Islam adalah suatu ekspresi keindahan alam yang mengingatkan hamba dengan pencipta. Suatu ekspresi yang mempertemukan keindahan dan kebenaran. Dengan kata lain, tidak harus menggambarkan simbol-simbol agama secara langsung dalam mengekspresikan seni menurut pandangan Islam, tetapi dengan penggambaran keindahan alam sebagai ciptaan Tuhan yang dengan sendirinya dapat membangkitkan kecintaan terhadap sang Pencipta. Hal tersebut yang dikatakan Kuntowijoyo dengan seni yang merangsang dzikir seorang Muslim.
Seorang Muslim yang baik dapat dikatakan sebagai seorang Muslim yang mampu menginternalisasikan serta menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-harinya atau kafah. Kafah ialah bagaimana menafsirkan ajaran agama agar dapat melandasi atau melebur dalam aktivitas keseharian baik dalam aspek politik, ekonomi, sosial maupun seni dan budaya. Islam sebagai agama yang universal membuktikan keuniversalannya dengan mampu bertahan dalam berbagai aspek dan dimensi kehidupan serta bertahan dalam berbagai zaman. Dengan demikian, seni tidak serta merta dilarang dalam Islam tetapi Islam mempunyai zona tersendiri bagi seni sebagai salah satu bagian kecil dari ciptaan Allah SWT.
Film, Islam dan Pemuda
Film merupakan media yang unik baik dari segi penyampaiannya maupun khalayak yang menikmatinya. Dalam film, banyak hal yang dapat di eksplorasi dan bersifat edukatif. Contohnya ialah dalam proses pembuatan suatu film. Pendidikan yang disebut dengan sinematografi merupakan sisi edukasi tersendiri, sebab melalui suatu proses pengambilan gambar dan proses editing yang baik, suatu film dapat membuat sekelompok khalayak duduk tenang dalam ruangan besar yang gelap dimana hanya ada gambar-gambar bergerak di depan mereka. Bahkan tidak ada interupsi oleh iklan, mereka dengan setia duduk selama dua hingga tiga jam. Sedemikian hebatnya film sebagai media penyampai pesan. Hal tersebut dikarenakan film mempunyai medianya sendiri, khalaknyanya sendiri dan cara menikmati sendiri. Pesan yang disampaikan juga amat menarik sebab melalui suatu lakon cerita. Keunikan tersebut membuat film mempunyai dimensi tersendiri yang berbeda dengan media massa pada umumnya.
Dalam Islam, film merupakan salah satu aktivitas budaya yang mengedepankan seni kreatifitas yang cukup tinggi. Namun, kalangan fundamental umumnya menganggap film sebagai media ghazwul fikri (perang pemikiran) dan bahkan mereka menghindari bioskop dan televisi. Tetapi yang disayangkan adalah ketidaksadaran mereka terhadap arus film yang kian deras dan cenderung mengikis akidah Islam itu sendiri. Himbauan maupun informasi tidak lagi menjanjikan umat khususnya kalangan muda Islam untuk mampu menafsirkan film sebagai sebuah media edukatif. Hal tersebut dikarenakan industri makin menawarkan film sampah yang bersifat trend dan sedikit sisi edukasinya. Himbauan juga menjadi tidak informatif mengingat kelompok tersebut menghindar dan tidak mengkaji film dengan metode pengalaman, yakni merasakan langsung film tersebut sebagai khalayaknya. Akan lebih bermanfaat jika kritikan tersebut dibarengi dengan solusi cerdas yang bersifat konstruktif.
Karena itu, untuk mengimbangi arus film yang makin deras, beberapa kalangan cendikia Muslim, khususnya yang bergelut dalam bidang perfilman, membuat film alternatif bagi umat Muslim. Film tersebut merupakan counter culture dari film mainstream yang dewasa ini cenderung destruktif. Untuk itu aktor kenamaan seperti Dedi Mizwar serta sutradara handal Garin Nugroho selalu mencoba menghadirkan film bernafaskan Islami. Namun jika Dedi berhasil dengan Kiamat Sudah Dekat, tidak demikian dengan Garin. Usahanya dalam membuat film Islami terbentur mitos-mitos yang menjadi pola pikir umat Islam umumnya. Film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja menjadi berganti haluan menjadi film berlatar nasrani ketika mendapat tentangan dari umat Islam. Pada awalnya film tersebut berlatar pesantren, tetapi karena judulnya yang kontroversial, maka film tersebut beralih haluan.
Umat Islam mungkin harus dapat lebih peka untuk melihat judul film tersebut sebagai bahasa cinta yang filosofis. Sebelum mempertentangkannya, terlebih dahulu melihat filmnya. Tidak semua bahasa harus diutarakan secara gamblang dan denotatif, tetapi bahasa yang filosofis merupakan pengetahuan tersendiri bagi penikmat film. Umat hanya terpaku pada syari’at dan moral-moral yang ketat yang hanya berujung pada buruk sangka. Ungkapan Cium disitu ternyata bermakna relijius dan filosofis. Jika mitos-mitos tabu semacam ini dikembangkan tanpa sedikitpun memberi solusi, maka umat Islam kedepannya dapat teralienasi dari dunia yang seharunya mereka jaga.
Sebagaimana disebutkan di awal bahwa film mempunyai dimensi kreatif dan edukatif. Jika umat Islam ingin terbebas dari belenggu film-film sampah, maka mereka sendiri juga harus membuktikan bahwa mereka mampu membuat dan menilai sebuah film yang edukatif dan Islami. Pandangan yang terbuka terhadap fenomena yang ada harus menjadi hal yang utama sebab dengan demikian Islam akan terus dapat berkembang dan dinamis. Mengubah pola pikir dan pandangan terhadap, baik seni maupun film dapat membuka wawasan pemuda Islam untuk berkreasi menggunakan media film dalam menyampaikan pesan yang baik dan bijak.

Kritik Tanpa Solusi hanya Apologi
Dengan demikian, sudah menjadi tanggung jawab para pemuda Islam yang kafah untuk membuat film sebagai ciptaan Tuhan yang positif dan baik dengan daya kreatifitas mereka. Jadi, proses produksi film yang kreatif merupakan aktivitas kreatif para pemuda Islam dan penggalian sisi positif dari sebuah film merupakan pemikiran dan cara pandang pemuda Islam yang kreatif. Melalui tindakan-tindakan kreatif tersebut, pemuda Islam diharapkan mampu mengembalikan Islam sebagai agama yang terbuka dan positif memandang berbagai hal serta dinamis dan progresif.
Dunia telah membuktikan bahwa film merupakan media efektif dalam hal propaganda. Jika umat Islam tidak menyadari hal tersebut dan cenderung menutup mata, maka akan sangat disayangkan jika kedepan umat Islam tidak mampu bertahan terhadap perkembangan dunia dan zaman. Keterpakuan umat dengan masalah syari’at membuat mereka lupa dengan hal-hal lain yang juga berkembang seiring pergantian waktu, contohnya seperti perfilman. Ketidakmampuan pemuda Islam dalam menyikapi pergerakan dunia film membuat mereka makin tersingkir dari kelompok-kelompok lainnya. Keterpakuan itu juga yang membuatnya makin tertutup dan tradisional tanpa progress yang jelas. Salah satu yang terjadi adalah adanya kritik tanpa solusi. Hal tersebut membuat alasan aqidah dan syari’at menjadi apologi kosong. Bertindak dan berfikir kreatif serta terbuka seharusnya diterapkan para pemuda karena potensinya untuk membuat Islam kembali kepada tempatnya yang terbuka dan universal. Universal bukan hanya berarti menjadi agama kebenaran tetapi juga menjadi agama yang mampu bertahan dalam segala kondisi zaman dan produk yang dihasilkannya. Universal berarti setiap golongan akan selalu merasa aman di dekat umat dan universal berarti mampu ditafsirkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari manusia.
Pemuda Islam seharusnya mampu memanfaatkan film sebagai media kreasi mereka. Dengan demikian mereka dapat ditempatkan dalam pos-pos dimensi kehidupan manapun seperti film salah satunya. Film yang merupakan turunan dari seni merupakan produk kontroversi yang harus dikaji pemuda Islam dengan pola pikir kreatif dan progresif. Berbeda bukan berarti perdebatan yang berujung buruk sangka dan pertentangan, tetapi berbeda untuk saling mengerti dan menghargai. Film sebagai media kreatif dan unik juga sebenarnya milik umat Islam, tergantung bagaimana kita mau terbuka dan menjadikannya milik kita serta bermanfaat bagi kehidupan manusia.

  oooOOooo


[Dipublikasikan di majalah AINI PAIS Edisi VI, Nopember – Desember 2010. Majalah terbitan Departemen Agama RI]

Budaya Menulis: Belajar Cerdas dengan Menulis


Pendidikan merupakan dunia di mana seseorang dapat dengan leluasa dan bertanggung jawab menyebarkan sebanyak mungkin yang diketahuinya kepada orang banyak. Pendidikan menjadi gerbang pengatahuan bagi siapapun di dunia ini. Media yang digunakan beragam, mulai dari yang konvensional hingga digital. Belajar dan mempelajari suatu yang yang telah diciptakan Allah SWT, menjadi hak bagi setiap manusia yang hidup dan bernafas. Membaca kitab kauniyah yang terbentang luas di jagat semesta. Namun setelah membaca yang menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, lantas bagaimana lagi? Hal terbaik yang mungkin dilakukan pembelajar ialah membaginya dengan individu lain, baik yang memiliki kesempatan untuk masuk dalam lembaga pendidikan ataupun yang belum memiliki kesempatan. Aktivitas tersebut dapat dilakukan dalam dua cara yakni, melalui proses belajar mengajar secara langsung dan melalui tulisan. Jika proses belajar mengajar membutuhkan tatap muka yang terbatas, maka agar dapat menjangkau banyak orang menulis merupakan aktivitas yang dipilih. Melalui menulis, akan menjadi lebih mudah menyebarluaskan pengetahuan yang dimiliki, sebab media yang ada dan berkembang dewasa ini mampu menjangkau banyak kalangan, yang sekarang disebut dengan media digital.

Menulis menjadi aktivitas yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Jika sebelumnya menulis menjadi aktivitas pilihan untuk mentransformasikan ilmu, aspek manfaat menjadi milik bersama, maka menulis dengan tujuan mengulang ilmu merupakan aspek manfaat personal. Jika yang satu sangat luas maka yang satu lagi sempit. Sebenarnya masih banyak manfaat menulis lainnya, namun dalam kesempatan kali ini kita akan coba membahas mengenai manfaat menulis bagi personal dan hal-hal dalam kegiatan menulis guna membuat sebuah tulisan. Dimulai dari yang sederhana, maka menulis merupakan aktivitas cerdas yang pernah tercipta.

“Lupa”, “Kelupaan”, Menulis dan Berbagi
Menulis adalah ketika huruf-huruf terangkai menjadi satu dan membentuk kalimat-kalimat bermakna. Kegiatan menulis menjadi suatu yang bermanfaat ketika penerapannya konstan dalam artian terus menerus. Membiasakan diri dengan suatu hal memang dibutuhkan kesungguhan, terkadang mungkin terasa berat dan makin lama akan membosankan, namun dengan pembiasaan maka hal tersebut akan menjadi hal yang biasa karena telah menjadi bagian dari keseharian. Menggalakkan budaya menulis terhadap diri sendiri, menjadi langkah cerdas dalam melakukan aktivitas pembelajaran. Dengan menulis, seseorang mampu mengingat kembali segala hal yang tertimbun dalam benak mereka. Seperti proses recalling, pengetahuan yang telah dipelajari sebelumnya akan lebih kuat mengakar dalam otak ketika kita ketika pengetahuan tersebut ditulis di atas kertas. Kemalasan seseorang akan suatu hal, akan menjerumuskan mereka kepada kebodohan. Kemalasan menulis, membuat dunia akademik tidak akan bergairah. Inti dari budaya ilmiah itu sendiri salah satunya adalah menulis. Setelah mempelajari dan meneliti suatu fenomena, maka sudah menjadi tugas seorang pembelajar untuk kemudian menuliskannya. Bentuk output dari tulisan dapat beragam seperti buku, novel, karya ilmiah dan sebagainya.
Jadi, terdapat setidaknya dua hal yang mampu dimanfaatkan dari penerapan budaya menulis. Pertama ialah, dengan menulis, pengetahuan yang telah dipelajari baik yang baru dipelajari atau telah lama dipelajari akan lebih mengakar. Hal tersebut dikarenakan ada proses penulisan kembali (recalling) pengetahuan-pengetahuan tersebut sehingga tidak tertimbun dengan berbagai hal lain yang masuk ke otak. Pembiasaan melalui menulis tersebut membuat ilmu pengetahuan yang dipelajari tidak hanya akan tersimpan di otak tetapi juga dapat menjadi habit keseharian yang mampu diterapkan secara fisik. Ketika suatu ilmu telah diterapkan hingga manfaatnya muncul, maka ilmu pengetahuan yang bermanfaat bukan lagi menjadi cita-cita. Kedua ialah, dengan menulis berdasarkan pengetahuan yang dipelajari, kemudian membukukan melalui berbagai media, maka pengetahuan akan bermanfaat bagi orang lain. Sebagaimana disebutkan dalam hadis bahwa, ilmu haruslah bermanfaat. Dianalogikan seperti pohon, ketika berbuah, maka buah tersebut harus dapat dinikmati oleh orang banyak.

Menulis tidak hanya sekedar menulis, tetapi menulis sebagai suatu aktivitas kultural yang hasilnya dapat dibagi dengan orang banyak. Hal tersebut ditujukan agar orang lain dapat mengambil hikmah dan pelajaran mengenai pengalaman yang ditulis di atas kertas. Proses pembiasaan seseorang menulis tentu saja tidak serta merta langsung terbukukan atau dibagi dengan yang lain. Dimulai dari diri sendiri dimana tulisan hanya berupa pengalaman pribadi atau hal-hal yang terjadi disekitar kita. Seperti halnya pelajaran yang diajarkan di sekolah. Setelah mendapatkannya melalui proses transformasi ilmu di kelas, siswa dapat kembali mengulang pelajaran tersebut di rumah dengan cara menuliskannya kembali.

Sudah menjadi dasar dari manusia untuk kemudian cepat lupa akan suatu hal yang kurang menarik menurut mereka, maka untuk menghindari kelupaan atas apa yang dipelajari di sekolah, menulis merupakan jawabannya. Kegiatan ini bukan hanya suatu proses upaya untuk menekankan pelajaran tersebut dalam otak, tetapi juga juga dengan menuliskannya ke dalam buku catatan, maka jika sewaktu-waktu dibutuhkan dan lupa, dapat membuka lagi buku catatan tersebut. Dengan kata lain, melalui kegiatan menulis, seseorang akan sangat terbantu dalam mengatasi permasalahan “lupa” atau “kelupaan”. Sifat dasar atau alamiah pelupa manusia, bukan menjadi alasan untuk kemudian menjadi malas. Allah SWT telah dengan baik memberikan akal kepada manusia dan menggunakannya untuk memecahkan banyak permasalahan dalam hidupnya. Termasuk dalam mengurangi resiko lupa yang berujung pada kemalasan, gunakan akal untuk memcahkannya dengan menerapkan budaya menulis pada diri sendiri. Memang tidak semua ilmu hanya cukup dituliskan untuk mudah diingat, beberapa juga perlu dipraktekan dalam bidangnya masing-masing, namun tetap saja, langkah awal agar dapat dipraktekan adalah dengan menuliskannya terlebih dahulu.

Membiasakan diri Membuat Tulisan
Dalam upaya penerapan budaya menulis, yang dilihat bukan hanya manfaatnya saja seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Dalam rangka membagi, baik itu pengalaman maupun pengetahuan yang telah dikuasai, menulis menjadi aktivitas positif. Sebagai media dalam proses berbagi, menulis juga memerlukan sistematika tersendiri. Memulai dengan yang sederhana bukan berarti tidak bisa beranjak menjadi yang luar biasa, aspek manfaat dari ilmu pengetahuan yang telah dipelajari dapat terlihat melalui tulisan yang bermanfaat.
Dalam proses membuat suatu tulisan, terdapat beberapa langkah yang perlu diperhatikan. Langkah-langkah tersebut dapat menjadi acuan dalam membentuk sistematika tulisan yang baik. Langkah yang ada di bawah ini merupakan langkah sederhana bagi pemula yang ingin mengaktifkan kenginan menulis mereka. Beberapa langkah tersebut adalah:
1)    Temukan topik dari tulisan. Pilih topik yang dikuasai dan perkuat dengan referensi bacaan yang mendukung. Jika ingin menulis yang belum dikuasai maka perbanyak membaca terlebih dahulu. Tulisan yang sudah dikuasai akan lebih mudah dibaca karena telah mengetahui bagaimana tulisan tersebut menjadi sederhana tanpa mengurangi pesan yang ingin disampaikan.
2)     Temukan kata kunci (keyword) untuk tulisan. Kata kunci membantu dalam proses pengembangan suatu kalimat.
3)       Buat judul atulisan yang selaras dengan isi tulisan dan ide yang telah digagas. Judul dapat bersumber dari kata-kata kunci yang telah dibuat sebelumnya. Perhatikan juga alur tulisan karena harus menjadi satu kesatuan yang terfokus pada topik dan judul tulisan.

            Berdasarkan langkah-langkah tersebut, tulisan yang sistematis dapat dibuat. Langkah tersebut juga dapat dijadikan kiat-kiat dalam membuat suatu tulisan. Dengan memerhatikan poin-poin tersebut, seseorang dapat memulai untuk belajar menulis. Ketiga poin di atas dapat digunakan oleh siswa hingga siapapun yang ingin belajar membuat tulisan yang sederhana.

            Dengan memahami dan menerapkan poin-poin tersebut seseorang mungkin dapat menciptakan sebuah tulisan, namun terkadang seseorang mengalami kesulitan dalam menemukan ide. Ide terkadang sulit keluar karena tidak terbiasa, dan pada saat itu seseorang akan mengalami kebuntuan hingga berujung pada rasa malas untuk memulai tulisan. Tetapi hal tersebut bukan berarti tidak dapat di atasi. Secara sederhana, ada beberapa hal yang dapat membantu seseorang dalam menemukan ide. Hal-hal tersebut ialah: (1) Tuliskan saja semua yang ada di pikiran kita dan biarkan bawah sadar yang menuliskannya. Kunci ketika membuat tulisan ialah hindari editan selama tulisan tersebut berlangsung. Alirkan setiap ide yang ada di dalam kepala dan setelah selesai lihatlah hasilnya. Jika memang perlu di edit, lakukan ketika selesai. Hal tersebut karena ketika kita menulis dengan nyaman, tidak mengedit dan mengalir maka kita akan menjadi diri kira sendiri atau dengan kata lain kita menulis selayaknya sedang berbicara dengan orang lain.

            Dengan dmikian, segala yang ada akan mengalir sebagaimana suatu pembicaraan/ penceritaan. Selain itu tulisan kita akan mudah dibaca nantinya. (2) Perbanyak membaca, dengan demikian akan banyak referensi-referensi sebagai masukan dalam tulisan. Semakin banyak memasukkan, kita akan semakin banyak mengeluarkan, dalam artian semakin banyak membaca, maka akan semakin banyak ide yang dapat kita tuliskan. Karena menulis merupakan proses pembelajaran, maka banyak unsur-unsur edukatif yang akan kita temukan dan secara otomatis akan banyak ide-ide baru untuk dibagi melalui tulisan. Bahan bacaan juga harus yang bermanfaat agar apa yang nanti dituliskan juga memiliki banyak manfaat. (3) Tulis pengalaman sendiri sebagai langkah awal dalam membiasakan diri terhadap tulisan. Ada istilah yang mengatakan tidak kenal maka tidak sayang dan tidak suka maka tidak bisa. Jika ingin mempelajari suatu hal sudah selayaknya kita terlebih dahulu mengenal dan menyukai budaya menulis. Hal itu dapat menjadi modal awal untuk mendapatkan ide-ide tulisan. Menulis pengalaman pribadi adalah hal yang sangat menyenangkan karena banyak hal yang dapat ditulis seperti kegiatan sehari-hari, aktivitas dan sebagainya. Memulai dengan yang menyenangkan akan memicu diri untuk kemudian terbiasa dengan dunis tulis menulis, masalah pencarian ide menjadi suatu proses yang asik dan tidak membosankan.

            Kemudian yang terakhir dalam upaya penggalian ide ialah (4) tulis hal-hal yang ada disekitar kita. Sebagaimana pada poin ketiga mengenai pengalaman, kejadian yang ada di sekitar menjadi objek tersendiri yang menarik untuk ditulis. Tidak perlu panjang lebar, singkat saja untuk awal membuat tulisan panjang nantinya. Pada poin ini juga ditekankan bahwa dengan mencoba menggambarkan keadaan yang ada disekitar mampu menumbuhkan ketertarikan pada aktivitas menulis. Ada banyak hal-hal sebagai ide untuk mencari topik tulisan. Dengan demikian banyak sebenarnya ide-ide yang dapat digali, baik dari diri sendiri, media lain, pengalaman maupun lingkungan sekitar. Tulis segala yang kita lihat, dengar, baca, rasakan dan alami menjadi gerbang menanamkan kebiasaan menulis dan hal itu akan menjadi sangat menyenangkan.

Cerdas dengan Menulis
            Dengan berdasarkan pada uraian-uraian tersebut di atas, kita dapat melihat bahwa sesungguhnya menulis merupakan aktivitas yang mencerdaskan. Karena dengan menerapkan budaya menulis, aspek-aspek lain yang edukatif akan mengikutinya. Diantaranya ialah membaca baik secara tekstual maupun kontekstual. Tekstual dapat berupa pembacaan dari buku-buku yang bersifat edukatif dan bermanfaat. Dengan membaca buku maka dengan sendirinya kosa kata atau perbendaharaan kata kita akan semakin banyak dan hal tersebut sangat membantu dalam membuat tulisan yang baik. Selain itu, akan banyak ide-ide yang dapat kita tangkat di dalamnya yang kemudian dapat menjadi referensi dalam menggagas ide sendiri. Sedangkan membaca secara kontekstual ialah melalui pengalaman dan segala kejadian yang ada di sekitar. Apa yang terjadi di lingkungkan dan apa yang di alami secaraa personal menjadi referensi dalam menggagas ide untuk kemudian menuliskannya. Dalam Islam kitab tersebut mungkin tertulis sebagai kitab Kauniyah dan kitab Qur’aniyah.

            Selain itu, dengan menulis kita dapa memperkuat ingatan kita mengenai segala hal yang telah dipelajari sebelumnya. Kebiasaan lupa akan mudah menguap ketika kita menuliskannya kembali dalam sebuah catatan. Menulis juga merupakan aktivitas sosial ketika apa yang kita tulis menjadi manfaat tersendiri bagi setiap orang yang membacanya. Karenanya, membudidayakan kegiatan menulis sama halnya dengan membudidayakan membaca, tertulis ataupun fenomena. Cerdas dengan menulis bukan hanya cerdas bagi diri sendiri tetapi juga cerdas bagi sesama karena di dalamnya terdapat proses berbagai ilmu pengetahuan.

oooOOooo


[Dipublikasikan di majalah AINI PAIS Edisi V, September – Oktober 2010. Majalah terbitan Departemen Agama RI]

Literasi Media: Internet Sehat untuk Pelajar

gambar: www.agussiswoyo.com
Pada era perkembangan teknologi informasi saat ini, mungkin setiap orang telah mendengar kata “komputer”. Perangkat ini begitu terkenal hingga setiap orang akrab dengan namanya, walaupun belum pernah mengoperasikan atau bahkan belum pernah melihatnya. Ditemukannya komputer memang membuka keran kemudahan bagi setiap pembelajar. Aktivitas tulis menulis menjadi makin efisien bahkan efektif. Waktu yang diperlukan menjadi relative singkat dan mampu memberikan hasil yang lebih rapih dan nyaman dilihat. Komputer menjadi alat ketik yang identik dengan modernisasi dan kemajuan teknologi. Impian manusia terhadap suatu teknologi yang dapat menampilkan banyak hal melalui satu layar pernah diungkapkan dalam film Star Trek. Kini, hal tersebut bukan lagi sekedar mimpi, terlebih perkembangan teknologi sekarang ini yang membuat komputer makin canggih.

Dilain pihak, manusia bukan lagi terpaku pada perangkat komputer tetapi apa yang muncul dari layar komputer. Internet, menjadi salah satu perkembangan yang dihasilkan seiring berkembangnya fungsi komputer. Internet dapat dikatakan sebagai jaringan komputer yang saling terhubung. Dalam melakukan aktivitas komunikasi melalui internet, manusia memanfaatkan jaringan-jaringan yang saling terhubung antara satu komputer/perangkat dengan komputer/perangkat lainnya. Internet seperti halnya teknologi lain yang pada dasarnya netral. Jika beberapa pihak menyatakan internet merusak, khususnya pendidikan atau moral anak-anak, maka pihak lain menyatakan tidak. Seperti dikatakan bahwa teknologi pada dasarnya netral. Hal ini karena internet bukanlah manusia yang dapat bergerak tanpa digerakkan oleh pengguna (user). Jika kerap terjadi kasus berkaitan dengan internet yang tidak menyenangkan, perlu ditelaah ulang apakan internet yang bermasalah, atau kesiapan manusia itu sendiri yang kurang. Literasi media menjadi penting di sini, mengingat teknologi kini telah berlari.

Literasi media dapat dikatakan sebagai pemahaman individu terhadap media dan penggunaannya. Dengan pemahaman mengenai penggunaan suatu media, manusia dapat menggunakannya sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan. Tujuan-tujuan yang bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga orang lain, sebenarnya dapat dilakukan dengan teknologi terbaru ini. Dengan demikian, kasus-kasus terkait internet terjadi karena perilaku manusia itu sendiri terhadap internet serta tingkat literasi media yang rendah. Para ahli media dan akademisi hingga kini masih melakukan pengkajian tentang internet yang disebut dengan kajian media baru. Media baru dengan banyak hal yang ditawarkan, membuat pola komunikasi manusia dan aktivitas produksi – konsumsi informasi berubah. Manusia tidak hanya berposisi sebagai konsumen konten media tetapi juga produsennya. Sedemikian berpengaruhnya manusia terhadap informasi-informasi dalam internet, seharusnya lebih mendorong untuk banyak berkarya, terutama bagi para pelajar. Sebelum lebih jauh melihat apa saja yang dapat dilakukan dengan internet yang bermanfaat bagi pembelajaran, kita uraikan secara singkat asal mula kemunculannya.


Sejarah Internet 
Internet pertama kali dibentuk oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat pada tahun1969. Pembentukannya terjadi melalui proyek ARPA yang disebut dengan ARPANET (Advance Research Project Agency Network). Proyek ini mendemonstrasikan cara berkomunikasi dalam jarak yang tidak terhingga melalui saluran telepon. Komunikasi tersebut dilakukan dengan menggunakan hardware dan software komputer berbasis UNIX. Proyek ARPANET merancang bentuk jaringan, kehandalan, seberapa besar informasi dapat dipindahkan, dan akhirnya semua standar yang mereka tentukan menjadi cikal bakal pembangunan protokol baru yang sekarang dikenal sebagai TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol). Pada awalnya, proyek tersebut dilakukan untuk keperluan militer Amerika. Departemen Pertahanan Amerika Serikat membuat sistem jaringan komputer dengan menghubungkan komputer pada daerah-daerah penting. Hal tersebut dilakukan untuk mengatasi masalah jika terjadi serangan nuklir dan untuk menghindari terjadinya pemusatan informasi. Informasi yang terpusat diyakini akan mudah dihancurkan musuh pada masa perang.

Pada awal kemunculannya, ARPANET hanya menghubungkan empat situs yakni Stanford Research Institute, University of California, Santa Barbara dan University of Utah. Situs-situs tersebut membentuk satu jaringan terpadu pada tahun 1969, sedangkan ARPANET diperkenalkan secara umum pada bulan Oktober 1972. Kemudian tidak berselang lama, proyek ini berkembang pesar di seluruh daerah dan semua universitas ingin bergabung. Hal inilah yang membuat ARPANET dipecah menjadi dua, karena ARPANET kesulitan mengatur pihak-pihak yang ingin bergabung. Dua pecahan ARPANET adalah MILNET yang digunakan untuk keperluan militer dan ARPANET baru dengan kapasitas lebih kecil yang digunakan untuk keperluan non-militer seperti universitas. Sedangkan gabungan dari kedua jaringan itu dikenal dengan nama DARPA Internet yang kemudian disederhanakan menjadi Internet.

Di Indonesia sendiri, sejarah internet dimulai pada awal tahun ’90-an. Internet pada saat itu lebih dikenal sebagai suatu paguyuban network. Dasar dari penamaan tersebut adalah semangat kerjasama, kekeluargaan dan gotong royong. Penggunanya saat itu benar-benar memanfaatkan internet sebagai sarana berinteraksi. Sebetulnya terdapat pengguna awal internet di Indonesia. Pengguna tersebut memanfaatkan CIX (Inggris) dan Compuserve (AS) untuk mengakses informasi melalui internet. Protokol Internet (IP) pertama di Indonesia didaftarkan oleh Universitas Indonesai pada 24 Juni 1988. Terdapat beberapa nama yang berpengaruh dalam keberadaan internet di Indonesia selama rentang tahun 1992 hingga 1994. Nama-nama tersebut antara lain; RMS Ibrahim, Suryono Adisoemarta, Muhammad Ihsan, Robby Soebiakto, Putu, Firman Siregar, Adi Indrayanto dan Onno W. Purbo. Masing-masing telah memberikan kontribusi terhadap keberadaan dan sejarah internet di Indonesia. Tulisan-tulisan yang membuktikan keberadaan internet saat itu dapat ditemukan pada artikel media cetak seperti KOMPAS dengan judul “Jaringan Komputer Biaya Murah Menggunakan Radio” (Nopember 1990). Selain itu juga dimuat dalam beberapa artikel pendek di Majalah Elektron Himpunan Mahasiswa Elektro ITB pada tahun 1989.

            Semenjak dibaginya internet menjadi dua kategori, kita dapat melihat bahwa internet dikembangkan oleh dua kelompok masyarakat, yakni kelompok militer dan pembelajar. Kelompok pembelajar yang diwakili akademisi yang tersebar di universitas-universitas, melihat potensi edukatif pada penggunaan internet. Hal ini membuktikan bahwa selain kepentingan negara, internet juga menjadi kepentingan perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan demikian kita harus bisa mengembalikan penggunaan internet untuk proses pembelajaran bagi para siswa dan pemuda. [Dari berbagai sumber]
Internet dan Literasi Media
Sebagaimana disampaikan sebelumnya bahwa internet merupakan teknologi yang pada dasarnya netral. Manusialah yang kemudian sebagai user atau pengguna yang mengarahkan teknologi tersebut dan menggunakannya untuk apa. Dengan demikian pendidikan media dan pemahaman penggunaannya menjadi suatu hal yang penting bagi semua orang, terutama para siswa yang kerap menggunakan internet untuk mencari beragam informasi seputar pelajaran yang mereka minati. Disebutkan juga di awal, pemahaman seseorang terhadap media dan penggunaannya disebut dengan literasi media. Literasi media disebut-sebut sebagai senjata yang mampu mengurangi efek buruk penggunaan media, terutama oleh anak dan remaja. Oleh karena itu literasi media untuk anak sangat penting diajarkan oleh orang tua ataupun guru-guru mereka.

Literasi media atau juga dikenal dengan sebutan melek media merupakan suatu istilah yang digunakan sebagai jawaban dari maraknya pandangan masyarakat mengenai pengaruh dan dampak yang muncul dari konten media. Dampak-dampak yang dibicarakan adalah dampat negatif dan cenderung tidak diaharapkan terjadi. Oleh karena dampak media yang yang telah meresahkah, maka setiap orang dirasa perlu untuk diberikan kemampuan, pengetahuan, kesadaran dan keterampilan dalam memahami media. Pemahaman tidak hanya berbasis pada konten media, tetapi media itu sendiri sebagai suatu teknologi. Beberapa ahli telah memaparkan definisi literasi media (dalam Chang, Sup, 2001 : 424), diantaranya:
1.   Kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan pesan (National leadership Confrence on Media literacy, 1992)
2.       Pengetahuan tentang bagaimana fungsi media di masyarakat (Paul Messaris,1990)
3.      Pemahaman kebudayaan, ekonomi, politik dan keterbatasan teknologi dalam suatu kreasi, produksi dan transmisi pesan.
4.  Pengetahuan khusus, kesadaran dan rasionalitas sebagai proses kognitif dalam memperoleh informasi
5.      Fokus utama mengevaluasi secara kritis tentang pesan dan cara meng-komunikasikannya. Kemudian memahami sumber dan teknologi komunikasi, simbol yang digunakan, pesan yang diproduksi, diseleksi, diinterpretasi dan akibat yang ditimbulkannya. 
Dari definisi-definisi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa literasi media membantu pengguna media untuk terhindar dari dampak negatif media yang bahkan tidak disadarinya. Dengan ini literasi media patut diterapkan pada siswa, mengingat fenomena game online sedang marak di lingkungan para pelajar. Warnet atau warung internet menjadi tempat yang mengubah mereka menjadi user. Tidak akan menjadi masalah ketika penggunaan internet oleh pelajar untuk keperluan pendidikannya atau sekedar menambah wawasan. Tetapi akan menjadi kacau dan memperihatinkan jika berjam-jam pelajar menghabiskan waktu dan uang saku untuk bermain game. Hal ini tidak menjadi masalah jika diimbangi dengan belajar, tetapi jika porsi bermain lebih banyak, maka hanya rasa malas yang tertinggal.

Orang tua menjadi penting peranannya dalam mengajarkan anak penggunaan media internet secara tepat. Banyak filter-filter yang dapat di download dan diaplikasikan agar anak dapat berinternet secara aman. Beberapa aplikasi filter internet untuk anak sudah diluncurkan, sebut saja Norton Online Family dan Ubuntu Muslim Edition. Kedua aplikasi ini mampu memblokir situs-situs tidak pantas yang dapat membahayakan perkembangan anak. Aplikasi seperti ini muncul juga tidak lepas dari upaya penyelamatan anak dari penggunaan media internet yang salah, seperti konten pornografi baik sengaja ataupun tidak. Kesadaran orang tua akan adanya aplikasi-aplikasi sejenis, merupakan upaya literasi media. Walau demikian, para pelajar juga penting untuk diajari semenjak dini.
Internet untuk Pelajar
Dengan uraian di atas, kita dapat melihat pentingnya pendidikan Literasi media untuk masyarakat terutama para pelajar. Literasi media dapat diterapkan untuk menghadapi media apapun termasuk internet. Dengan penanaman pendidikan ini, pelajar dapat diarahkan untuk berinternet secara aman dan bahkan menghasilkan karya melalui tulisan. Contohnya dengan membuat blog sendiri. Para pelajar dapat berlatih menulis sesuai dengan topik kesukaannya. Hal ini dapat mempertegas minat dan bakat pelajar serta melatih kreatifitas mereka dalam membuat lay out blog sendiri. Tulisan-tulisan dapat berupa opini pribadi hingga tulisan yang bermanfaat bagi orang lain. Dengan kemampuan menulis yang terasah, maka kosa kata pelajar akan bertambah sehingga mereka tidak akan kikuk ketika berbicara di depan orang banyak. Kemampuan menulis juga melatih pelajar untuk mengatakan atau menuliskan apa yang mereka pikirkan. Sedangkan kolom comment dapat melatih sisi kritis sekaligus sisi kebijaksanaan untuk menerima kritik orang lain.
Beberapa manfaat internet bagi pelajar seperti dikutip dari http://www.anneahira.com/ manfaat-internet-bagi-pelajar.htm, antara lain:
1.      Membuat pelajar terbiasa dengan teknologi komputer dan informasi
2.      Sebagai bahan pelajaran dan pengayaan
3.      Memperluas wawasan dan
4.      Sarana komunikasi
Dengan demikian internet tidak selalu menonjolkan sisi negatifnya, tetapi juga perlu digali sisi positifnya bagi pelajar. Untuk itu pendidikan Literasi media menjadi penting sebagai fondasi mereka untuk menggunakan internet sesuai kebutuhan mereka sebagai pelajar.

Rabu, 21 Maret 2012

Konser Bagi Pemuda


Jakarta, 29 Oktober 2008. Pukul 17:30 Balai Kartini yang bertempat di Kuningan Jakarta mulai disesaki para penonton yang ingin menyaksikan konser musik klasik yang di bawakan oleh Twilite Orchestra pimpinan Addie MS. Saya bersama dua reporter lainnya menyelusup kearah kerumunan manusia yang terlihat sangat antusias. Beberapa menit kemudian kami dapat bernafas lega sebab telah berhasil memasuki ruangan Balai Kartini. Dekorasi menyerupai langit malam yang dihiasi lampu-lampu layaknya bintang membentuk cahaya remang. Sangat elegan. Pukul 20:00 tepat, konser dimulai. Tiba-tiba suara lantang Bung Karno mengejutkan saya yang saat itu mengambil tempat duduk di tengah dimana layar TV besar berdiri gagah didepan saya, walau akhirnya menyerobot tempat duduk media yang kosong akibat tidak datang. Suara lantang tersebut membacakan Proklamasi dengan berwibawa dan sangat nasionalis. Film documenter mengenai perjuangan pemuda yang mendesak agar proklamasi segera dikumandangkan menjadi hidangan perdana. Pukul 20:15 karya WR. Supratman diperdengarkan. Indonesia Raya dikumandangkan. Semua yang hadir berdiri, hikmat dan terbuai dalam bait-bait dan alunan music yang pernah menggetarkan pemuda angkatan ’28. Pemuda yang berhasil menyatakan multikulturalisme harus tumbuh di bumi pertiwi, pemuda yang mampu membuat merah putih berdiri dan lagu Indonesia Raya menjadi pegangan nasionalisme para anak bangsa.

Sesaat kemudian penonton kembali duduk, suasana menjadi hening. Syaraf-syaraf di otak saya dikejutkan oleh alunan biola dan perangkat orkestra lainnya yang tidak saya kenal. Nada-nada mulai disinkronisasikan, harmoni indah diciptakan, sebuah lagu berjudul Pomp Circumstance March No. 1 dimainkan. “Farewell the nighing steed and the shrill trump, the spirit-stirring drum, the ear-piercing fife, the royal banner and all quality, pride, pomp and circumstance of glorious war”, penggalan kalimat yang diambil dari drama “Othello” karya Shakespeare menjadi inspirasi terjadinya lagu yang diciptakan oleh Edward Elgar menjadi sambutan awal setelah karya WR. Supratman didahulukan yang dipersembahkan Twilite Orchestra untuk Balai Kartini. Karya yang mendapat apresiasi tinggi dari Raja Edward VII ini merupakan penggambaran cinta tanah air sang komponis serta dipersembahkan untuk bangsa Inggris yang bergembira atas hasil akhir perang Boer (di Afrika Selatan). Sepuluh menit berlalu, tepuk tangan kembali riuh terdengar, rasa puas lagi-lagi terpancar dari wajah-wajah berseri Balai Kartini. Dan, kami tidak dibiarkan menunggu lama untuk merasakan kembali perasaan tersebut, Academic Festival Overture, Op. 80 dimainkan. Buah karya seorang Johannes Brahms (1880) ini dibuat sebagai ucapan terima kasih kepada Universitas Breslau yang telah memberikannya gelar Doktor honoris causa pada tahun 1879. Karya ini dirangkai melalui sejumlah lagu-lagu mahasiswa (yang terkenal saat itu) dalam struktur yang santai namun berteknik tinggi. Sangat Johannes Brahms. Dan bagian yang paling ditunggu-tunggu para pecinta musik klasik adalah “Gaudeamus Igitur”, bagian yang masih terdengar asing ditelinga mahasiswa Indonesia termasuk saya. 

Berdasarkan dari sejarah pembuatan lagu tersebut, para pemuda sudah patutnya berbangga, mereka dihargai lewat lantuna-lantunan nada yang berfilosofis rasa terima kasih seorang maestro terhadap hal-hal yang dicintai dan dihormatinya. Hal tersebut adalah wajar jika ditujukan kepada para pemuda angakatan ’28 dan pemuda lainnya yan telah berkarya, tetapi untuk yang belum melakukan apa-apa? Yang jelas ekspektasinya adalah karya yang mampu membuat dunia tercengang, yang membuat bumi pertiwi menangis haru dan bangga pada segenap tumpah darahnya, yang membuat bangsa ini tetap menyandang kata “merdeka”. Slide-slide yang ditampilkan pada TV besar tepat didepan saya yang menurut saya lebih mirip layar tancap mini karena resolusinya yang tidak terlalu bagus membuat mata saya dan para penonton yang hadir menjadi berkaca-kaca. Pada slide-slide tersebut diuraikan lewat gambar-gambar pemuda Indonesia dari lampau hingga kini, dari yang membawa bedil hingga trophi dan karangan bunga. Slide tersebut juga menampilkan mimpi-mimpi dan harapan bangsa yang mulai renta yang kini ingin duduk tenang dikursi goyangnya dan menyaksikan atraksi-atraksi pemuda yang bergelimangan karya, tetapi mungkin bangsa yang tua ini masih harus menunggu beberapa lama lagi sebab para pemuda yang diharapkannya masih lelap tertidur dan entah kapan akan terbangun. Sesuai dengan sejarah lagu yang dimainkan, slide diakhiri dengan kalimat “Terima Kasih Pemuda Indonesia”.

Lima menit bersela, biola kembali digesek, harmoni kembali tercipta, Bangun Pemudi Pemuda dilantunkan bertujuan membakar darah para pemuda bangsa agar bangun dan berkarya

Saya perhatikan suasana Balai Kartini yang telah disulap menjadi pemandangan malam hari yang memukau dengan menitikberatkan pusat perhatian pada seorang muda berbakat dan terlihat tampan dengan balutan tuxedo dikulitnya yang langsat. Addie MS namanya, seorang konduktor dan pengarah musik berbakat yang dipunyai Indonesia dengan segudang prestasi yang mengikutinya, hingga kini. Adalah Indra U Bakrie dan Oddi Agam bersama Addie membangun Twilite Orchestra pada tahun 1991 silam. Melalui orkestra ini seorang Addie tampil dikalangan anak-anak muda baik di sekolah maupun dikampus demi memberikan program apresiasi musik dengan konser simfonik dan string ensemble disertai dialog interaktif dan mensosialisasikan bahwa pandangan musik orkestra hanya untuk kaum tua adalah salah, Twilite tampil sebagai genre musik yang berdiri untuk kaum muda.

“Musicademia merupakan salah satu program edukasional yang dibawakan Twilite Orchestra setiap tahunnya semenjak tahun 2000 didukung oleh “Sampoerna untuk Indonesia” , ujarnya berkarisma. “Konser ini diadakan sebagai simbol rasa terima kasih kepada pemuda angkatan ’28 yang telah mendklarasikan sumpah pemuda dan menyingkirkan ego kedaerahan serta bersatu dalam merah putih juga tidak lupa untuk pemuda-pemuda masa kini yang telah berkarya dan menorehkan tinta emas maupun perak tingkat dalam maupun luar negeri”, lanjutnya.

Pembacaan Teks Sumpah Pemuda
Empat orang dengan 5 jenis vokal yang berbeda karakter muncul dari balik layar. Mereka berdiri tegap dan gagah layaknya anggota paskibraka yang biasa saya lihat sewaktu SMA. 4 orang yang pastinya tidak asing bagi penonton termasuk saya yang gemar menonton TV menyebut diri mereka Idol Divo, mengadopsi kwartet dari latin yaitu Il Divo. Adalah Delon, Lucky, Mike dan Judika. mereka tampak gagah dibalut jas hitam dan peci dengan warna senada kepala lengkap dengan selempang merah putih dipundak kanan layaknya seorang finalis Putri Indonesia. Untuk pembukaan mereka mengajak audiens untuk berdiri dan membacakan Teks Sumpah Pemuda, Dalam sekejap TV besar dihadapan saya langsung menampilkan teks tersebut, tersenyumlah penonton yang tidak hafal isinya atau selalu terbalik dalam membacakannya karena tertolong teknologi tinggi yang merupakan penentu tingkat peradaban manusia. Satu persatu butir-butir sumpah di bacakan secara bergantian oleh para Idol. Prosesi pembacaan yang hikmat membawa saya pada masa 80 th silam, dimana hanya untuk menghasilkan sebuah teks yang bahkan panjangnya tidak mencapai 1 halaman saja, harus pertaruhkan segala, Teks tersebut terasa begitu sakti, setidaknya itu yang dirasakan para pemuda 80tahun silam. Tidak sampai 5 menit pembacaan selesai, para Idol berbalik dan kembali kebelakang stage, tinggallah saya dan para penonton terduduk diam dengan tafsiran masing-masing mengenai arti sumpah yang tadi dibacakan serentak, yang secara sadar ataupun tidak pasti akan diminta pertanggung jawabannya.

Musik kembali mengalun, Indonesia Pusaka dinyanyikan oleh seorang solis muda berbakat bernama Daniel Christianto, suaranya yang merdu mengiringi slide-slide yang menggambarkan daerah-daerah di Indonesia membuat saya (penulis) dan mereka (penonton) serasa berkeliling dari sabang hingga merauke. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah Nasionalisme dan Multikulturalisme. Sepuluh menit bersela, penampil lain selain Daniel bermunculan satu per satu, diantaranya adalah Lea Simanjuntak, Levi Gunardi dan Johannes S. Nugroho. Mereka mempersembahkan lagu-lagu yang membuat pendengarnya nyata-nyata sadar bahwa harapan Indonesia untuk maju dibawah tangan pemda tetap akan selalu ada. Hingga sampailah pada Sabre Dance. Lagu yang tidaklah asing bagi pecinta music klasik, satu-satunya lagu klasik yang familiar di telinga saya sebagai awam. Lagu yang saya kenal lewat film kartun kalsik Walt Disney ini adalah music yang dinamis, penuh imajinasi dan yang pertama kali terlintas di benak saya saat mendengarkannya adalah Tom & Jerry. Terlepas dari khayalan saya, kondisi Balai Kartini yang selama 30 menit menggebu-gebu dan hikmat berganti menjadi lebih santai. Atraksi yang dimainkan violis dan sang konduktor menggugah syaraf tawa penonton termasuk saya.

Lima belas menit berlalu, Sebre Dance selesai, paduan suara Mahasiswa tidak mau kalah dengan penampil lainnya, Medley lagu daerah dan Festive Overture, Op. 96 menjadi penutup. Acara selesai, semua penampil menyeruak keluar dari balik layar mengajak semua yang hadir berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan yang sedang popular saat ini. Padamu Negeri. Terlepas dari hafal ataupun tidak, terlepas dari kalangan mana anda berasal, terlepas dari suku mana anda dibesarkan, Padamu Negeri, Jiwa Raga Kami.

Siapa Pemuda Indonesia?
“Indonesia teenagers are the best one in the world, they are the greatest survival and I believe they can bring Indonesia into better future”, ujar Martin King saat saya wawancarai usai pertunjukan. “Through better modern education, Indonesia will have strong teenage”, lanjutnya. Sedikit mengejutkan mendengar pendapat seorang foreign mengenai pemuda Indonesia, saya bertanya hingga dua kali dan dua kali pula ia menegaskannya. Hal ini membuktikan bahwa image pemuda Indonesia di mata dunia perlahan-lahan membaik, walaupun kini masih kita jumpai wajah-wajah muda yang etnosentris dan individualis, namun bukan tidak mungkin jika perbaikan akan mengambil alih semuanya. Karya dan prestasi, itulah yang kini dinanti-nanti. Dan ini adalah karya pertama saya, harapan selanjutnya andalah yang berkarya. What you waiting for?  



[Naskah original: Dipublikasikan di majalah PARMAGZ Volume 1 th, 2008 yang merupakan pers kampus, Universitas Paramadina]