Pendidikan
merupakan dunia di mana seseorang dapat
dengan leluasa dan bertanggung jawab menyebarkan sebanyak mungkin yang
diketahuinya kepada orang banyak. Pendidikan menjadi gerbang pengatahuan bagi
siapapun di dunia ini. Media yang digunakan beragam, mulai dari yang
konvensional hingga digital. Belajar dan mempelajari suatu yang yang telah
diciptakan Allah SWT, menjadi hak bagi setiap manusia yang hidup dan bernafas.
Membaca kitab kauniyah yang terbentang luas di jagat semesta. Namun setelah
membaca yang menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, lantas bagaimana lagi? Hal
terbaik yang mungkin dilakukan pembelajar ialah membaginya dengan individu
lain, baik yang memiliki kesempatan untuk masuk dalam lembaga pendidikan
ataupun yang belum memiliki kesempatan. Aktivitas tersebut dapat dilakukan
dalam dua cara yakni, melalui proses belajar mengajar secara langsung dan
melalui tulisan. Jika proses belajar mengajar membutuhkan tatap muka yang
terbatas, maka agar dapat menjangkau banyak orang menulis merupakan aktivitas
yang dipilih. Melalui menulis, akan menjadi lebih mudah menyebarluaskan
pengetahuan yang dimiliki, sebab media yang ada dan berkembang dewasa ini mampu
menjangkau banyak kalangan, yang sekarang disebut dengan media digital.
Menulis menjadi aktivitas yang sangat penting dalam dunia
pendidikan. Jika sebelumnya menulis menjadi aktivitas pilihan untuk
mentransformasikan ilmu, aspek manfaat menjadi milik bersama, maka menulis
dengan tujuan mengulang ilmu merupakan aspek manfaat personal. Jika yang satu
sangat luas maka yang satu lagi sempit. Sebenarnya masih banyak manfaat menulis
lainnya, namun dalam kesempatan kali ini kita akan coba membahas mengenai
manfaat menulis bagi personal dan hal-hal dalam kegiatan menulis guna membuat
sebuah tulisan. Dimulai dari yang sederhana, maka menulis merupakan aktivitas
cerdas yang pernah tercipta.
“Lupa”, “Kelupaan”, Menulis dan Berbagi
Menulis adalah ketika huruf-huruf terangkai menjadi satu
dan membentuk kalimat-kalimat bermakna. Kegiatan menulis menjadi suatu yang
bermanfaat ketika penerapannya konstan dalam
artian terus menerus. Membiasakan diri dengan suatu hal memang dibutuhkan
kesungguhan, terkadang mungkin terasa berat dan makin lama akan membosankan,
namun dengan pembiasaan maka hal tersebut akan menjadi hal yang biasa karena
telah menjadi bagian dari keseharian. Menggalakkan budaya menulis terhadap diri
sendiri, menjadi langkah cerdas dalam melakukan aktivitas pembelajaran. Dengan
menulis, seseorang mampu mengingat kembali segala hal yang tertimbun dalam
benak mereka. Seperti proses recalling,
pengetahuan yang telah dipelajari sebelumnya akan lebih kuat mengakar dalam
otak ketika kita ketika pengetahuan tersebut ditulis di atas kertas. Kemalasan
seseorang akan suatu hal, akan menjerumuskan mereka kepada kebodohan. Kemalasan
menulis, membuat dunia akademik tidak akan bergairah. Inti dari budaya ilmiah
itu sendiri salah satunya adalah menulis. Setelah mempelajari dan meneliti
suatu fenomena, maka sudah menjadi tugas seorang pembelajar untuk kemudian
menuliskannya. Bentuk output dari
tulisan dapat beragam seperti buku, novel, karya ilmiah dan sebagainya.
Jadi, terdapat
setidaknya dua hal yang mampu dimanfaatkan dari penerapan budaya menulis.
Pertama ialah, dengan menulis, pengetahuan yang telah dipelajari baik yang baru
dipelajari atau telah lama dipelajari akan lebih mengakar. Hal tersebut
dikarenakan ada proses penulisan kembali (recalling)
pengetahuan-pengetahuan tersebut sehingga tidak tertimbun dengan berbagai hal
lain yang masuk ke otak. Pembiasaan melalui menulis tersebut membuat ilmu
pengetahuan yang dipelajari tidak hanya akan tersimpan di otak tetapi juga
dapat menjadi habit keseharian yang
mampu diterapkan secara fisik. Ketika suatu ilmu telah diterapkan hingga manfaatnya
muncul, maka ilmu pengetahuan yang bermanfaat bukan lagi menjadi cita-cita.
Kedua ialah, dengan menulis berdasarkan pengetahuan yang dipelajari, kemudian
membukukan melalui berbagai media, maka pengetahuan akan bermanfaat bagi orang
lain. Sebagaimana disebutkan dalam hadis bahwa, ilmu haruslah bermanfaat.
Dianalogikan seperti pohon, ketika berbuah, maka buah tersebut harus dapat
dinikmati oleh orang banyak.
Menulis tidak hanya
sekedar menulis, tetapi menulis sebagai suatu aktivitas kultural yang hasilnya
dapat dibagi dengan orang banyak. Hal tersebut ditujukan agar orang lain dapat
mengambil hikmah dan pelajaran mengenai pengalaman yang ditulis di atas kertas.
Proses pembiasaan seseorang menulis tentu saja tidak serta merta langsung
terbukukan atau dibagi dengan yang lain. Dimulai dari diri sendiri dimana
tulisan hanya berupa pengalaman pribadi atau hal-hal yang terjadi disekitar
kita. Seperti halnya pelajaran yang diajarkan di sekolah. Setelah
mendapatkannya melalui proses transformasi ilmu di kelas, siswa dapat kembali
mengulang pelajaran tersebut di rumah dengan cara menuliskannya kembali.
Sudah menjadi dasar dari manusia untuk kemudian cepat lupa
akan suatu hal yang kurang menarik menurut mereka, maka untuk menghindari kelupaan atas apa yang dipelajari di
sekolah, menulis merupakan jawabannya. Kegiatan ini bukan hanya suatu proses
upaya untuk menekankan pelajaran tersebut dalam otak, tetapi juga juga dengan
menuliskannya ke dalam buku catatan, maka jika sewaktu-waktu dibutuhkan dan
lupa, dapat membuka lagi buku catatan tersebut. Dengan kata lain, melalui
kegiatan menulis, seseorang akan sangat terbantu dalam mengatasi permasalahan
“lupa” atau “kelupaan”. Sifat dasar atau alamiah pelupa manusia, bukan menjadi
alasan untuk kemudian menjadi malas. Allah SWT telah dengan baik memberikan
akal kepada manusia dan menggunakannya untuk memecahkan banyak permasalahan
dalam hidupnya. Termasuk dalam mengurangi resiko lupa yang berujung pada
kemalasan, gunakan akal untuk memcahkannya dengan menerapkan budaya menulis
pada diri sendiri. Memang tidak semua ilmu hanya cukup dituliskan untuk mudah
diingat, beberapa juga perlu dipraktekan dalam bidangnya masing-masing, namun
tetap saja, langkah awal agar dapat dipraktekan adalah dengan menuliskannya
terlebih dahulu.
Membiasakan diri Membuat Tulisan
Dalam upaya penerapan budaya menulis, yang dilihat bukan hanya manfaatnya
saja seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Dalam rangka membagi, baik itu
pengalaman maupun pengetahuan yang telah dikuasai, menulis menjadi aktivitas
positif. Sebagai media dalam proses berbagi, menulis juga memerlukan
sistematika tersendiri. Memulai dengan yang sederhana bukan berarti tidak bisa
beranjak menjadi yang luar biasa, aspek manfaat dari ilmu pengetahuan yang
telah dipelajari dapat terlihat melalui tulisan yang bermanfaat.
Dalam proses membuat suatu tulisan, terdapat beberapa langkah yang perlu diperhatikan.
Langkah-langkah tersebut dapat menjadi acuan dalam membentuk sistematika
tulisan yang baik. Langkah yang ada di bawah ini merupakan langkah sederhana
bagi pemula yang ingin mengaktifkan kenginan menulis mereka. Beberapa langkah
tersebut adalah:
1) Temukan topik
dari tulisan. Pilih topik yang dikuasai dan perkuat dengan referensi bacaan
yang mendukung. Jika ingin menulis yang belum dikuasai maka perbanyak membaca
terlebih dahulu. Tulisan yang sudah dikuasai akan lebih mudah dibaca karena
telah mengetahui bagaimana tulisan tersebut menjadi sederhana tanpa mengurangi
pesan yang ingin disampaikan.
2) Temukan kata
kunci (keyword) untuk tulisan. Kata
kunci membantu dalam proses pengembangan suatu kalimat.
3) Buat judul
atulisan yang selaras dengan isi tulisan dan ide yang telah digagas. Judul
dapat bersumber dari kata-kata kunci yang telah dibuat sebelumnya. Perhatikan
juga alur tulisan karena harus menjadi satu kesatuan yang terfokus pada topik
dan judul tulisan.
Berdasarkan
langkah-langkah tersebut, tulisan yang sistematis dapat dibuat. Langkah
tersebut juga dapat dijadikan kiat-kiat dalam membuat suatu tulisan. Dengan
memerhatikan poin-poin tersebut, seseorang dapat memulai untuk belajar menulis.
Ketiga poin di atas dapat digunakan oleh siswa hingga siapapun yang ingin
belajar membuat tulisan yang sederhana.
Dengan
memahami dan menerapkan poin-poin tersebut seseorang mungkin dapat menciptakan
sebuah tulisan, namun terkadang seseorang mengalami kesulitan dalam menemukan
ide. Ide terkadang sulit keluar karena tidak terbiasa, dan pada saat itu
seseorang akan mengalami kebuntuan hingga berujung pada rasa malas untuk
memulai tulisan. Tetapi hal tersebut bukan berarti tidak dapat di atasi. Secara
sederhana, ada beberapa hal yang dapat membantu seseorang dalam menemukan ide. Hal-hal
tersebut ialah: (1) Tuliskan saja semua yang ada di pikiran kita dan biarkan
bawah sadar yang menuliskannya. Kunci ketika membuat tulisan ialah hindari
editan selama tulisan tersebut berlangsung. Alirkan setiap ide yang ada di
dalam kepala dan setelah selesai lihatlah hasilnya. Jika memang perlu di edit,
lakukan ketika selesai. Hal tersebut karena ketika kita menulis dengan nyaman,
tidak mengedit dan mengalir maka kita akan menjadi diri kira sendiri atau
dengan kata lain kita menulis selayaknya sedang berbicara dengan orang lain.
Dengan
dmikian, segala yang ada akan mengalir sebagaimana suatu pembicaraan/ penceritaan.
Selain itu tulisan kita akan mudah dibaca nantinya. (2) Perbanyak membaca,
dengan demikian akan banyak referensi-referensi sebagai masukan dalam tulisan.
Semakin banyak memasukkan, kita akan semakin banyak mengeluarkan, dalam artian
semakin banyak membaca, maka akan semakin banyak ide yang dapat kita tuliskan.
Karena menulis merupakan proses pembelajaran, maka banyak unsur-unsur edukatif
yang akan kita temukan dan secara otomatis akan banyak ide-ide baru untuk
dibagi melalui tulisan. Bahan bacaan juga harus yang bermanfaat agar apa yang
nanti dituliskan juga memiliki banyak manfaat. (3) Tulis pengalaman sendiri
sebagai langkah awal dalam membiasakan diri terhadap tulisan. Ada istilah yang
mengatakan tidak kenal maka tidak sayang dan tidak suka maka tidak bisa. Jika
ingin mempelajari suatu hal sudah selayaknya kita terlebih dahulu mengenal dan
menyukai budaya menulis. Hal itu dapat menjadi modal awal untuk mendapatkan
ide-ide tulisan. Menulis pengalaman pribadi adalah hal yang sangat menyenangkan
karena banyak hal yang dapat ditulis seperti kegiatan sehari-hari, aktivitas
dan sebagainya. Memulai dengan yang menyenangkan akan memicu diri untuk
kemudian terbiasa dengan dunis tulis menulis, masalah pencarian ide menjadi
suatu proses yang asik dan tidak membosankan.
Kemudian yang terakhir
dalam upaya penggalian
ide ialah (4) tulis
hal-hal yang ada disekitar kita. Sebagaimana pada poin ketiga mengenai
pengalaman, kejadian yang ada di sekitar menjadi objek tersendiri yang menarik
untuk ditulis. Tidak perlu panjang lebar, singkat saja untuk awal membuat
tulisan panjang nantinya. Pada poin ini juga ditekankan bahwa dengan mencoba
menggambarkan keadaan yang ada disekitar mampu menumbuhkan ketertarikan pada
aktivitas menulis. Ada banyak hal-hal sebagai ide untuk mencari topik tulisan.
Dengan demikian banyak sebenarnya ide-ide yang dapat digali, baik dari diri
sendiri, media lain, pengalaman maupun lingkungan sekitar. Tulis segala yang
kita lihat, dengar, baca, rasakan dan alami menjadi gerbang menanamkan
kebiasaan menulis dan hal itu akan menjadi sangat menyenangkan.
Cerdas dengan Menulis
Dengan
berdasarkan pada uraian-uraian tersebut di atas, kita dapat melihat bahwa
sesungguhnya menulis merupakan aktivitas yang mencerdaskan. Karena dengan
menerapkan budaya menulis, aspek-aspek lain yang edukatif akan mengikutinya.
Diantaranya ialah membaca baik secara tekstual maupun kontekstual. Tekstual
dapat berupa pembacaan dari buku-buku yang bersifat edukatif dan bermanfaat.
Dengan membaca buku maka dengan sendirinya kosa kata atau perbendaharaan kata
kita akan semakin banyak dan hal tersebut sangat membantu dalam membuat tulisan
yang baik. Selain itu, akan banyak ide-ide yang dapat kita tangkat di dalamnya
yang kemudian dapat menjadi referensi dalam menggagas ide sendiri. Sedangkan
membaca secara kontekstual ialah melalui pengalaman dan segala kejadian yang
ada di sekitar. Apa yang terjadi di lingkungkan dan apa yang di alami secaraa
personal menjadi referensi dalam menggagas ide untuk kemudian menuliskannya.
Dalam Islam kitab tersebut mungkin tertulis sebagai kitab Kauniyah dan kitab
Qur’aniyah.
Selain
itu, dengan menulis kita dapa memperkuat ingatan kita mengenai segala hal yang
telah dipelajari sebelumnya. Kebiasaan lupa akan mudah menguap ketika kita
menuliskannya kembali dalam sebuah catatan. Menulis juga merupakan aktivitas
sosial ketika apa yang kita tulis menjadi manfaat tersendiri bagi setiap orang
yang membacanya. Karenanya, membudidayakan kegiatan menulis sama halnya dengan
membudidayakan membaca, tertulis ataupun fenomena. Cerdas dengan menulis bukan
hanya cerdas bagi diri sendiri tetapi juga cerdas bagi sesama karena di
dalamnya terdapat proses berbagai ilmu pengetahuan.
oooOOooo
[Dipublikasikan
di majalah AINI PAIS Edisi V, September – Oktober 2010. Majalah terbitan
Departemen Agama RI]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar