Kamis, 22 Maret 2012

Budaya Menulis: Belajar Cerdas dengan Menulis


Pendidikan merupakan dunia di mana seseorang dapat dengan leluasa dan bertanggung jawab menyebarkan sebanyak mungkin yang diketahuinya kepada orang banyak. Pendidikan menjadi gerbang pengatahuan bagi siapapun di dunia ini. Media yang digunakan beragam, mulai dari yang konvensional hingga digital. Belajar dan mempelajari suatu yang yang telah diciptakan Allah SWT, menjadi hak bagi setiap manusia yang hidup dan bernafas. Membaca kitab kauniyah yang terbentang luas di jagat semesta. Namun setelah membaca yang menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, lantas bagaimana lagi? Hal terbaik yang mungkin dilakukan pembelajar ialah membaginya dengan individu lain, baik yang memiliki kesempatan untuk masuk dalam lembaga pendidikan ataupun yang belum memiliki kesempatan. Aktivitas tersebut dapat dilakukan dalam dua cara yakni, melalui proses belajar mengajar secara langsung dan melalui tulisan. Jika proses belajar mengajar membutuhkan tatap muka yang terbatas, maka agar dapat menjangkau banyak orang menulis merupakan aktivitas yang dipilih. Melalui menulis, akan menjadi lebih mudah menyebarluaskan pengetahuan yang dimiliki, sebab media yang ada dan berkembang dewasa ini mampu menjangkau banyak kalangan, yang sekarang disebut dengan media digital.

Menulis menjadi aktivitas yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Jika sebelumnya menulis menjadi aktivitas pilihan untuk mentransformasikan ilmu, aspek manfaat menjadi milik bersama, maka menulis dengan tujuan mengulang ilmu merupakan aspek manfaat personal. Jika yang satu sangat luas maka yang satu lagi sempit. Sebenarnya masih banyak manfaat menulis lainnya, namun dalam kesempatan kali ini kita akan coba membahas mengenai manfaat menulis bagi personal dan hal-hal dalam kegiatan menulis guna membuat sebuah tulisan. Dimulai dari yang sederhana, maka menulis merupakan aktivitas cerdas yang pernah tercipta.

“Lupa”, “Kelupaan”, Menulis dan Berbagi
Menulis adalah ketika huruf-huruf terangkai menjadi satu dan membentuk kalimat-kalimat bermakna. Kegiatan menulis menjadi suatu yang bermanfaat ketika penerapannya konstan dalam artian terus menerus. Membiasakan diri dengan suatu hal memang dibutuhkan kesungguhan, terkadang mungkin terasa berat dan makin lama akan membosankan, namun dengan pembiasaan maka hal tersebut akan menjadi hal yang biasa karena telah menjadi bagian dari keseharian. Menggalakkan budaya menulis terhadap diri sendiri, menjadi langkah cerdas dalam melakukan aktivitas pembelajaran. Dengan menulis, seseorang mampu mengingat kembali segala hal yang tertimbun dalam benak mereka. Seperti proses recalling, pengetahuan yang telah dipelajari sebelumnya akan lebih kuat mengakar dalam otak ketika kita ketika pengetahuan tersebut ditulis di atas kertas. Kemalasan seseorang akan suatu hal, akan menjerumuskan mereka kepada kebodohan. Kemalasan menulis, membuat dunia akademik tidak akan bergairah. Inti dari budaya ilmiah itu sendiri salah satunya adalah menulis. Setelah mempelajari dan meneliti suatu fenomena, maka sudah menjadi tugas seorang pembelajar untuk kemudian menuliskannya. Bentuk output dari tulisan dapat beragam seperti buku, novel, karya ilmiah dan sebagainya.
Jadi, terdapat setidaknya dua hal yang mampu dimanfaatkan dari penerapan budaya menulis. Pertama ialah, dengan menulis, pengetahuan yang telah dipelajari baik yang baru dipelajari atau telah lama dipelajari akan lebih mengakar. Hal tersebut dikarenakan ada proses penulisan kembali (recalling) pengetahuan-pengetahuan tersebut sehingga tidak tertimbun dengan berbagai hal lain yang masuk ke otak. Pembiasaan melalui menulis tersebut membuat ilmu pengetahuan yang dipelajari tidak hanya akan tersimpan di otak tetapi juga dapat menjadi habit keseharian yang mampu diterapkan secara fisik. Ketika suatu ilmu telah diterapkan hingga manfaatnya muncul, maka ilmu pengetahuan yang bermanfaat bukan lagi menjadi cita-cita. Kedua ialah, dengan menulis berdasarkan pengetahuan yang dipelajari, kemudian membukukan melalui berbagai media, maka pengetahuan akan bermanfaat bagi orang lain. Sebagaimana disebutkan dalam hadis bahwa, ilmu haruslah bermanfaat. Dianalogikan seperti pohon, ketika berbuah, maka buah tersebut harus dapat dinikmati oleh orang banyak.

Menulis tidak hanya sekedar menulis, tetapi menulis sebagai suatu aktivitas kultural yang hasilnya dapat dibagi dengan orang banyak. Hal tersebut ditujukan agar orang lain dapat mengambil hikmah dan pelajaran mengenai pengalaman yang ditulis di atas kertas. Proses pembiasaan seseorang menulis tentu saja tidak serta merta langsung terbukukan atau dibagi dengan yang lain. Dimulai dari diri sendiri dimana tulisan hanya berupa pengalaman pribadi atau hal-hal yang terjadi disekitar kita. Seperti halnya pelajaran yang diajarkan di sekolah. Setelah mendapatkannya melalui proses transformasi ilmu di kelas, siswa dapat kembali mengulang pelajaran tersebut di rumah dengan cara menuliskannya kembali.

Sudah menjadi dasar dari manusia untuk kemudian cepat lupa akan suatu hal yang kurang menarik menurut mereka, maka untuk menghindari kelupaan atas apa yang dipelajari di sekolah, menulis merupakan jawabannya. Kegiatan ini bukan hanya suatu proses upaya untuk menekankan pelajaran tersebut dalam otak, tetapi juga juga dengan menuliskannya ke dalam buku catatan, maka jika sewaktu-waktu dibutuhkan dan lupa, dapat membuka lagi buku catatan tersebut. Dengan kata lain, melalui kegiatan menulis, seseorang akan sangat terbantu dalam mengatasi permasalahan “lupa” atau “kelupaan”. Sifat dasar atau alamiah pelupa manusia, bukan menjadi alasan untuk kemudian menjadi malas. Allah SWT telah dengan baik memberikan akal kepada manusia dan menggunakannya untuk memecahkan banyak permasalahan dalam hidupnya. Termasuk dalam mengurangi resiko lupa yang berujung pada kemalasan, gunakan akal untuk memcahkannya dengan menerapkan budaya menulis pada diri sendiri. Memang tidak semua ilmu hanya cukup dituliskan untuk mudah diingat, beberapa juga perlu dipraktekan dalam bidangnya masing-masing, namun tetap saja, langkah awal agar dapat dipraktekan adalah dengan menuliskannya terlebih dahulu.

Membiasakan diri Membuat Tulisan
Dalam upaya penerapan budaya menulis, yang dilihat bukan hanya manfaatnya saja seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Dalam rangka membagi, baik itu pengalaman maupun pengetahuan yang telah dikuasai, menulis menjadi aktivitas positif. Sebagai media dalam proses berbagi, menulis juga memerlukan sistematika tersendiri. Memulai dengan yang sederhana bukan berarti tidak bisa beranjak menjadi yang luar biasa, aspek manfaat dari ilmu pengetahuan yang telah dipelajari dapat terlihat melalui tulisan yang bermanfaat.
Dalam proses membuat suatu tulisan, terdapat beberapa langkah yang perlu diperhatikan. Langkah-langkah tersebut dapat menjadi acuan dalam membentuk sistematika tulisan yang baik. Langkah yang ada di bawah ini merupakan langkah sederhana bagi pemula yang ingin mengaktifkan kenginan menulis mereka. Beberapa langkah tersebut adalah:
1)    Temukan topik dari tulisan. Pilih topik yang dikuasai dan perkuat dengan referensi bacaan yang mendukung. Jika ingin menulis yang belum dikuasai maka perbanyak membaca terlebih dahulu. Tulisan yang sudah dikuasai akan lebih mudah dibaca karena telah mengetahui bagaimana tulisan tersebut menjadi sederhana tanpa mengurangi pesan yang ingin disampaikan.
2)     Temukan kata kunci (keyword) untuk tulisan. Kata kunci membantu dalam proses pengembangan suatu kalimat.
3)       Buat judul atulisan yang selaras dengan isi tulisan dan ide yang telah digagas. Judul dapat bersumber dari kata-kata kunci yang telah dibuat sebelumnya. Perhatikan juga alur tulisan karena harus menjadi satu kesatuan yang terfokus pada topik dan judul tulisan.

            Berdasarkan langkah-langkah tersebut, tulisan yang sistematis dapat dibuat. Langkah tersebut juga dapat dijadikan kiat-kiat dalam membuat suatu tulisan. Dengan memerhatikan poin-poin tersebut, seseorang dapat memulai untuk belajar menulis. Ketiga poin di atas dapat digunakan oleh siswa hingga siapapun yang ingin belajar membuat tulisan yang sederhana.

            Dengan memahami dan menerapkan poin-poin tersebut seseorang mungkin dapat menciptakan sebuah tulisan, namun terkadang seseorang mengalami kesulitan dalam menemukan ide. Ide terkadang sulit keluar karena tidak terbiasa, dan pada saat itu seseorang akan mengalami kebuntuan hingga berujung pada rasa malas untuk memulai tulisan. Tetapi hal tersebut bukan berarti tidak dapat di atasi. Secara sederhana, ada beberapa hal yang dapat membantu seseorang dalam menemukan ide. Hal-hal tersebut ialah: (1) Tuliskan saja semua yang ada di pikiran kita dan biarkan bawah sadar yang menuliskannya. Kunci ketika membuat tulisan ialah hindari editan selama tulisan tersebut berlangsung. Alirkan setiap ide yang ada di dalam kepala dan setelah selesai lihatlah hasilnya. Jika memang perlu di edit, lakukan ketika selesai. Hal tersebut karena ketika kita menulis dengan nyaman, tidak mengedit dan mengalir maka kita akan menjadi diri kira sendiri atau dengan kata lain kita menulis selayaknya sedang berbicara dengan orang lain.

            Dengan dmikian, segala yang ada akan mengalir sebagaimana suatu pembicaraan/ penceritaan. Selain itu tulisan kita akan mudah dibaca nantinya. (2) Perbanyak membaca, dengan demikian akan banyak referensi-referensi sebagai masukan dalam tulisan. Semakin banyak memasukkan, kita akan semakin banyak mengeluarkan, dalam artian semakin banyak membaca, maka akan semakin banyak ide yang dapat kita tuliskan. Karena menulis merupakan proses pembelajaran, maka banyak unsur-unsur edukatif yang akan kita temukan dan secara otomatis akan banyak ide-ide baru untuk dibagi melalui tulisan. Bahan bacaan juga harus yang bermanfaat agar apa yang nanti dituliskan juga memiliki banyak manfaat. (3) Tulis pengalaman sendiri sebagai langkah awal dalam membiasakan diri terhadap tulisan. Ada istilah yang mengatakan tidak kenal maka tidak sayang dan tidak suka maka tidak bisa. Jika ingin mempelajari suatu hal sudah selayaknya kita terlebih dahulu mengenal dan menyukai budaya menulis. Hal itu dapat menjadi modal awal untuk mendapatkan ide-ide tulisan. Menulis pengalaman pribadi adalah hal yang sangat menyenangkan karena banyak hal yang dapat ditulis seperti kegiatan sehari-hari, aktivitas dan sebagainya. Memulai dengan yang menyenangkan akan memicu diri untuk kemudian terbiasa dengan dunis tulis menulis, masalah pencarian ide menjadi suatu proses yang asik dan tidak membosankan.

            Kemudian yang terakhir dalam upaya penggalian ide ialah (4) tulis hal-hal yang ada disekitar kita. Sebagaimana pada poin ketiga mengenai pengalaman, kejadian yang ada di sekitar menjadi objek tersendiri yang menarik untuk ditulis. Tidak perlu panjang lebar, singkat saja untuk awal membuat tulisan panjang nantinya. Pada poin ini juga ditekankan bahwa dengan mencoba menggambarkan keadaan yang ada disekitar mampu menumbuhkan ketertarikan pada aktivitas menulis. Ada banyak hal-hal sebagai ide untuk mencari topik tulisan. Dengan demikian banyak sebenarnya ide-ide yang dapat digali, baik dari diri sendiri, media lain, pengalaman maupun lingkungan sekitar. Tulis segala yang kita lihat, dengar, baca, rasakan dan alami menjadi gerbang menanamkan kebiasaan menulis dan hal itu akan menjadi sangat menyenangkan.

Cerdas dengan Menulis
            Dengan berdasarkan pada uraian-uraian tersebut di atas, kita dapat melihat bahwa sesungguhnya menulis merupakan aktivitas yang mencerdaskan. Karena dengan menerapkan budaya menulis, aspek-aspek lain yang edukatif akan mengikutinya. Diantaranya ialah membaca baik secara tekstual maupun kontekstual. Tekstual dapat berupa pembacaan dari buku-buku yang bersifat edukatif dan bermanfaat. Dengan membaca buku maka dengan sendirinya kosa kata atau perbendaharaan kata kita akan semakin banyak dan hal tersebut sangat membantu dalam membuat tulisan yang baik. Selain itu, akan banyak ide-ide yang dapat kita tangkat di dalamnya yang kemudian dapat menjadi referensi dalam menggagas ide sendiri. Sedangkan membaca secara kontekstual ialah melalui pengalaman dan segala kejadian yang ada di sekitar. Apa yang terjadi di lingkungkan dan apa yang di alami secaraa personal menjadi referensi dalam menggagas ide untuk kemudian menuliskannya. Dalam Islam kitab tersebut mungkin tertulis sebagai kitab Kauniyah dan kitab Qur’aniyah.

            Selain itu, dengan menulis kita dapa memperkuat ingatan kita mengenai segala hal yang telah dipelajari sebelumnya. Kebiasaan lupa akan mudah menguap ketika kita menuliskannya kembali dalam sebuah catatan. Menulis juga merupakan aktivitas sosial ketika apa yang kita tulis menjadi manfaat tersendiri bagi setiap orang yang membacanya. Karenanya, membudidayakan kegiatan menulis sama halnya dengan membudidayakan membaca, tertulis ataupun fenomena. Cerdas dengan menulis bukan hanya cerdas bagi diri sendiri tetapi juga cerdas bagi sesama karena di dalamnya terdapat proses berbagai ilmu pengetahuan.

oooOOooo


[Dipublikasikan di majalah AINI PAIS Edisi V, September – Oktober 2010. Majalah terbitan Departemen Agama RI]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar