Kamis, 05 April 2012

Kajian Dampak Media: Media dan Kekerasan

Media memang akan selalu bersinggungan dengan hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari manusia. Diantara dimensi-dimensi tersebut, kekerasan mungkin yang menjadi salah satu sorotan. Hal tersebut dikarenakan dampak yang timbul bukan hanya suatu perilaku agresif dan kasar tetapi sudah mencapai tahap kriminal yang menyebabkan korban. Pelaku maupun korban juga bukan hanya pada level usia dewasa tetapi sudah memasuki level anak-anak. Sebesar apa pengaruh media terkait konten kekerasan tersebut hingga mampu begitu kuat mempengaruhi khalayak? Beberapa model kajian dampak media yang ada mencoba menjelaskan fenomena tersebut. Beberapa diantaranya ialah berasal dari teori kognitif (cognitive theory) dan teori fisiologis (physiologies theory) yang keduanya tergabung dalam teori efek perilaku (theories of behavioral effects)

Teori Kognitif (Cognitive Theory)
Teori ini menjelaskan dampak dari konten kekerasan dalam media pada tahap kognitif manusia atau proses tersebut dipandang dari segi kognitif manusia. Menurutnya, sisi agresif manusia tumbuh melebihi aktivitas mental yang secara umum merupakan hasil dari atau respon dari konten kekerasan dalam media. Respon yang didapat bukan hanya pengaruh dari mental secara langsung, tetapi ada suatu proses kognitif yang terlibat di sana. Teori ini bersandar pada tiga tipe aktivitas mental sebagai dasar perilaku agresif seperti, pembelajaran (learning), pembentukan sikap (attitude formation) dan priming.

Pendekatan kognitif yang dominan berkaitan dengan konten kekerasan media dan perilaku agresif ialah berdasar pada pembelajaran (learning). Learning merupakan suatu proses kondisi yang melibatkan petentangan mental dan usaha. Hal tersebut bukan merupakan hasil dari terpaan pasif konten media, dalam artian terhadapat rentang waktu atau durasi konsumsi media yang konstan. Learning juga merupakan efek relatif jangka panjang, atau dengan kata lain asumsi pendekatan ini yang mengatakan bahwa dampak dari mempelajari kekerasan dalam media agak dapat diterima.

gambar: www.catatanorangbijak.wordpress.com
Bandura menyatakan bahwa manusia belajar tidak hanya melalui pengalaman mereka secara langsung, namun juga dengan mengamati orang lain. Media dalam hal ini banyak memberikan kesempatan dalam menyediakan materi pengalaman tersebut. Dua kunci dari perilaku belajar ini ialah relevan dan adaptif. Melalui dua hal ini, seseorang akan lebih mudah belajar. Relevan berarti berhubungan dengan kehidupan seseorang dan adaptif berarti hal-hal yang mampu menolong mereka dalam kehidupan mereka sendiri. Implikasinya ialah, ketika seseorang melihat konten kekerasan media sebagai suatu hal yang memang pernah terjadi dengan orang lain (relevan) maka mereka akan menyesuaikan diri dengan hal tersebut dan cenderung mengadaptasinya ketika dianggap mampu memecahkan masalah hidup mereka.

Media kerap menggambarkan kekerasan sebagai suatu tindakan yang atraktif, keberhasilan dan karakter yang dihargai, baik sebagai pembela kejahatan atau lainnya. Kekerasan menjadi sesuatu yang menggugah dan menarik perhatian, hal tersebutlah yang membuat kekerasan banyak dipelajari atau ditiru. Media visual banyak menawarkan gambar-gambar yang merangsang kecenderungan penonton mempelajari kekerasan secara sosial.

Information-Processing Model
Model yang merupakan perkembangan dari social learning ini menyatakan bahwa sikap agresif seseorang tidak hanya muncul ketika terpaan media begitu kuat. Model ini menyatakan bahwa atribut media juga mempunyai peran penting dalam memunculkan sikap agresif. Atribut tersebut ialah script media atau naskah atau bahasa verbal yang digunakan. Huesmann menyatakan bahwa proses encoding script yang diverbalisasikan media yang terus menerus diulang (rehearsal) mampu mengkultivasi dan akhirnya dipelajari sebagai suatu tindakan sosial. Menurut Huesmann, seorang anak yang kasar cenderung tidak populer dan jarang menghabiskan waktu dengan teman maupun keluarga. Sikap introvert ini memaksa anak berteman dengan TV dan akhirnya berinteraksi melalui naskah-naskah yang ada hingga dipelajari sebagai suatu tindakan sosial.

Priming by Aggressive Media Cues
Model ini beranggapan bahwa dalam tayangan kekerasan dalam media terdapat simbol-simbol tertentu yang mampu mempengaruhi perilaku seseorang. Priming merupakan aktivasi otomatis dari skema yang telah ada pada tanda yang menyolok dalam lingkungan. Priming yang dibuat oleh media dengan konten kekerasan memungkinkan munculnya tanda-tanda tertentu yang menjadi “top of mind” bagi penontonnya. Hal tersebut tentu akan diingat dan memungkinkan untuk mempengaruhi bagaimana orang berpikir, merasakan dan bertindak. Dengan kata lain tanda agresif dalam media mampu merangsang pikiran-pikiran agresif seseorang yang akan berdampak pada reaksinya terhadap suatu seting sosial.

Masih berhubungan dengan model sebelumnya, dimana script dalam media memerankan variable utama. Namun, script di sini lebih spesifik mengacu pada satu tanda yang mencolok yang kemudian menjadi referensi seseorang dalam bertindak agresif. Sebagai contoh, dalam film kekerasan umumnya menggunakan senjata dalam scriptnya, dan hal tersebut dapat menjadi tanda yang berpotensi mengaktifkan sikap agresif di dunia nyata. Hal tersebut juga tidak terlepas dari gambaran media yang tidak pernah menunjukkan bahwa menggunakan kekerasan akan langsung mendapatkan hukuman. Objek spesifik yang sangat mencolok akan menjadi sebuah tanda agresi. Masyarakat mungkin secara sadar mengaktifkan script yang bersifat agresif dalam kendali proses mental sebagai solusi dalam dunia nyata. Ataupun, tanda mencolok media memungkinkan script agresif utama mempengaruhi bagaimana seseorang merespon dalam waktu yang singkat.

gambar: www.iprasblog.com

Teori Fisiologis (Physiological Theories)
Kunci dari pendekatan ini adalah bagaimana respon khalayak secara fisiologis terhadap konten kekerasan media. Arousal atau suatu rangsangan yang mampu mempengaruhi perilaku agresif seseorang, misalnya. Setidaknya terdapat tiga mekanisme dalam model ini. Pertama ialah penonton dimungkinkan berperilaku lebih intensif daripada ketika tidak terstimulan. Kedua penonton menjadi sangat terstimulan dalam konteks kekerasan dalam media, arousal mungkin diberi label sebagai ketakutan, kemarahan atau permusuhan. Jadi dalam jangka waktu yang singkat setelah terpaan konten kekerasan media. Arousal tidak secara langsung menginspirasi, tetapi menguatkan melalui beberapa variable.

Secara umum, banyak metode yang digunakan dalam menggambarkan dampak dari konten kekerasan dalam media. Beberapa meneliti dari segi medianya, beberapa lagi meneliti dari sisi khalayaknya. Secara langsung maupun tidak, kekerasan dalam media ternyata mampu merangsang sisi agresif manusia yang kemudian menjadi referensi mereka dalam menentukan sikap sosial. Kekerasan menjadi tontonan yang menjual karena hal itu tabu secara sosial, manusia mampu mendapatkannya dalam bentuk yang menyenangkan di media yang secara tidak sadar membentuk pola mental mereka. Hal tersebut tentu tidak berdiri sendiri. Lingkungan dan keadaan personal seseorang juga mempengaruhi, namun yang menjadi pertanyaan ialah seberapa jauh media memberi tambahan pembenaran atas suatu kekerasan yang mungkin banyak terjadi dalam lingkungan seseorang?

Selasa, 03 April 2012

Dae Jang Geum; Budaya dalam Sebuah Drama

gambar: www.indowebster.web.id
Dae Jang Geum. Namanya mungkin tidak asing lagi bagi para pecinta drama korea di Indonesia. Jewel in the Palace merupakan judul drama yang memaparkan kisah hidup Dae Jang Geum. Film mengklaim terinspirasi dari kisah nyata sejarah seorang dokter wanita pertama di Korea. Jang Geum kecil dan keluarganya hidup dalam pelarian sebagai buronan istana. Namun, suatu hari karena kesalahan Jang Geum, sang ayah ditangkap. Jang Geum kecil dan ibunya pun melarikan diri. Namun sayang sang ibu terluka parah dan akhirnya meninggal. Jang Geum yang hidup sendiri akhrinya tumbuh menjadi gadis cantik yang cerdas. Ia juga berhasil masuk ke istana dan menjadi dayang. Roman kehidupannya yang berliku akhirnya membawa Jang Geum menjadi perawat istana yang berujung pada pengangkatan dirinya sebagai seorang tabib istana.

Cerita singkat tersebut dikatakan berdasarkan kisah nyata sejarah tabib wanita istana pertama di Korea. Sedangkan dalam sejarah, nama Dae jang Geum memang tercatat dalam Babad Dinasti Joseon serta dokumen medis dari masa itu. Dinasti ini memang terkenal selalu mencatat hal-hal bersejarah pada masanya. Kendati demikian, deskripsi dan rujukkan mengenai kisah Dae Jang Geum sangat sedikit dan singkat. Bahkan beberapa menilai bahwa sosok Dae Jang Geum merupakan sosok rekaan yang diperuntukkan para wanita dan perawat saat itu agar terpacu semangatnya. 

gambar: my.opera.com
Dae Jang Geum sendiri sebagai sebuah drama kolosal, menjadi salah satu drama yang sukses. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara. Kemasan yang apik dan sentuhan budaya Korea yang khas mampu memanjakan para pemirsa. Adat-adat Korea, terutama pada dinasti Joseon, memang ditampilkan dengan baik. Terbukti dengan scene penuh pada adegan memasak. Scene memasak amat detil diperlihatkan. Mulai dari pemilihan bahan makanan, manfaat hingga cara memasaknya yang khas Korea. Melalui drama ini, Korea berhasil memperkenalkan budayanya dengan cara yang populis namun tidak menghilangkan aspek kualitas sinematografinya. Tidak berniat menganggungkan, tetapi drama Korea memang kerap memerhatikan detil-detil dalam tiap adegan. Kendati masih terdapat drama yang juga seperti sinetron biasa. Namun mereka selalu berbenah, terutama yang menyerempet budaya asli dan sejarah.

gambar: www.asiaenglish.visitkorea.or.kr
Banyak hal dari tren drama Korea Selatan ini yang kiranya dapat menjadi referensi utama sinetron Indonesia. Proses reading dan riset menjadi penentu kualitas drama. Tetapi sayangnya, sinetron Indonesia masih mengesampingkan hal itu demi keuntungan praktis yang cenderung berjangka pendek. Contohnya proses reading yang kadang tidak dilakukan dengan maksimal, hingga alur cerita yang cenderung membosankan. Sedangkan yang dapat dibanggakan adalah beberapa sinetron besutan Deddy Mizwar dengan Kiamat Sudah Dekat, Demi Waktu dan lain-lain. Sinetron berkualitas yang tidak menjemukkan dan amat nyaman di mata. Kehadiran FTV juga menjadi penyegar mata pemirsa. Tetapi apakah hal tersebut akan diikuti sinetron lainnya? Sinetron-sinetron mainstream yang hanya menayangkan mimpi dan membentuk realitas yang cederung aneh dan asing di mata pemirsa Indonesia. 

disadur dari berbagai sumber.

Senin, 02 April 2012

Hybrid Hallyu: Korean Style

Korea Selatan dan style. Setelah mendengarnya apa yang pertama kali tersirat dalam benak kita? Tampan, cute dan stylist. Korea Selatan dengan Hallyu-nya telah menghipnotis banyak kalangan di dunia termasuk Indonesia. Korean wave semacam ini melanda sejak diperkenalkannya drama Korea atau pop Korea yang dikenal dengan K Pop. Winter Sonata mungkin salah satu drama yang populer di awal-awal perkenalan Indonesia dengan Korean Drama. Baik ceritanya yang menyentuh maupun pemainnya yang good looking, drama Korea menampilkan fashion yang ramah mata. Mulai dari pakaian, aksesoris hingga make up yang sekrang populer dengan sebutan fashion a la Korea. 

Lalu mengapa drama Korea Selatan menjadi sangat menjamur di Indonesia? Dibandingkan dengan drama Asia seperti Taiwan dan Hongkong yang lebih awal menginjakkan kakinya, drama Korea tergolong lebih murah. Namun bukan berarti produksinya asal-asalan atau murah. Nampaknya ada sisi lain yang diincar oleh kepamoran drama Korea di sejumlah negara. Hal ini terbukti dengan ikut suksesnya tren fashion a la Korea. Kendati bukan sekedar Hanbook yang kerap dimunculkan, namun Hallyu memang sangat cerdas dalam memadukan unsur tradisional dan western. Kita dapat melihat jenis coat atau mantel yang digunakan dalam beberapa drama Korea, mirip dengan coat yang digunakan di Inggris Raya.

gambar: www.coburberrysale.com             gambar www.classycocoa.com
Coat a la Britain                          Coat a la Korea

Selain itu tentu kita juga kerap menjumpai dress dengan model terusan yang menggembung bawahnya. Sekilas ini mirip dengan model Hanbook dengan pita di bagian perut. Warna-warna yang dipilih juga sangat berani. Seperti Hanbook tradisional, warna-warna seperti hijau, merah dan orange masih digunakan. Walaupun warna-warna pastel juga ditampilkan, namun tone warna khas Korea nyaris tidak hilang. Perpaduan yang dilakukan Hallyu berhasil karena dari perpaduan tersebut, muncullah busana a la Korea atau Fashion Korea. Selain itu tren make up yang flawless dan sedikti berminyak namun charming, juga diperkenalkan drama Korea. Dari sinilah banyak juga bermunculan kosmetik produksi korea dengan tren BB cream-nya. Asesoris lucu yang kerap digunakan artis Hallyu juga menjadi tren. Tampilan seperti "barbie" namun dengan wajah Asia ini menjadi daya tarik tersendiri. Melalui tren-tren tersebut, Hallyu memantapkan diri dengan fashion a la Korea-nya. Hal ini juga yang menyebabkan industri fashion dan kosmetik Korea berkembang di Indonesia.


gambar: nisasstrory.blogspot.com      gambar: ys871220.blogspot.com
Melihat efek domino dari drama yang murah, Hallyu telah mendapat yang lebih dari sekedar keuntungan dari segi materi. Hallyu mendapat keuntungan kultural dengan membentuk, membangun dan mengembangkan fashion sendiri dengan identitas tradisional Korea Selatan yang tidak juga luntur. Penekanan pada aspek kualitas masih menjadi patokan utama, hasilnya? Dapat kita lihat sekarang. 





disarikan dari berbagai sumber.