Minggu, 26 Januari 2014

Tegal Prarang - Grogol


Aku menaiki sebuah monster yang terbuat dari besi dan baja bernomor 46. Peluh dan letih dengan setia menemaniku dan temanku. Kami menuju sebuah daerah berpenduduk padat dengan kepenatan hidup yang kompleks. Temanku yang lelah tertidur, asik dibuai mimpi, terlepas dari indah atau tidaknya ia bermimpi yang kutau ialah ia lelah.

Tak ada kawan bicara kendati malam telah larut, akupun terdiam dengan anganku. Anganku mengenai hidup, mengenai cinta, mengenai hari-hari ku. Anganku terus membumbung tinggi, mungkin akan menembus langit ke-tujuh? who knows.

Lantunan lagu-lagu kang Ebiet yang dinyanyikan seniman jalanan menemani lamunanku yang terus tak terkejar logikaku. 15 menit berlalu, lagu kang Ebiet tak lagi menari dengan anganku yang halus, tak tersentuh otak kiri yang linear.

Tiba-tiba seorang laki-laki pendek, kecil dan kurus menggendong balita yang terlihat sangat lelah dan kantuk menggelayut di matanya, menepuk-nepuk tangan serta menyanyi tak jelas apa. Entah apa yang dipikirkan olehnya. Dengan membawa makhluk kecil bermain dengan angin larut yang sangat ribut dan tajam. Wajah belia itu terlihat tak terurus namun sisi mungil dan inocent-nya tetap terjaga sebab ia sejatinya adalah malaikat kecil yang akan bermetamorfosis menjadi makhluk Tuhan yang indah dikemudian hari. Lima menit berlalu, tangan kanan menjulur, mengharap ada receh dengan nominal besar yang terjaring. Namun lelah telah mengutuk seisi bis, kuperhatikan jejaring hidup itu hanya mampu menyetuh beberapa receh nominal kecil. Ia turun, membawa bidadari kumal besertanya. Matanya masih lelah, masih terpuruk dalam kantuk tapi gelap menenggelamkan mereka.

Larut masih menggelayut, penghibur malam berganti sosok. Pandangan sayuku berganti pada, masih sosok kecil yang berteriak-teriak “Grogol...grogol...”. Peluhku kering terkena desau angin malam yang makin pekat. Lamunku makin tinggi, meraba mega gulita. Tapi pikiran linearku tak mampu menangkap gejala alam tersebut. Bergelantung dipintu depan berdekatan dengan pak sopir, sesekali kilatan-kilatan remang lampu jalan menyerempet tubuhnya yang kasar. Dengan lugu dan suara “cempreng” yang beralih serak dan berat bagai seorang dewasa beralih tua. Entah ia mengerti apa yang ia kerjakan atau tidak. “Sepi malam ini ya, pak?”, ujarnya mencoba menghangatkan suasana dingin antara ia dan pak sopir, namun sang penguasa bajaberjalan tak merespon apa-apa. Entah karena ia tetap fokus pada lingkaran besar yang dipegangnya dimana nyawa sekitar duapuluhan orang berada atau memang lelah telah meracun syaraf tawanya hingga susah hanya untuk sekedar menyunggingkan senyum.

Tetapi sosok kecil berdaki itu tetap tersenyum. Tertawa girang layaknya sedang bermain dengan kawan. Kunang-kunang berpolusi dan malam. Huh...aku mendesah! Entah lelah, ngantuk atau apa...
apa?entah apa. Sesekali aku memandang langit, mencoba mengkomunikasikan kebingunganku akan Tuhan. Pandangan kontras antara si malaikat kecil kumal dan penumpang yang terkutuk kantuk. Si bocah berdaki pentereriak “Grogol” dan pak supir yang teracun syaraf tawanya hingga tak bisa tertawa. Dan kawanku yang lelah dengan jeda hidup yang terlampau lama hingga ia tak bisa merasakan substansi nikmatnya tertawa dan rasa lelah.

Antara Tegal Parang dan Grogol, hanya dalam setengah jam di mesin baja bernomer 46, aku diajarkan hidup.



Jakarta, 26 Desember 2008
Pkl. 23.15 di bis jurusan Grogol no. 46

4 Januari 2008


Saat itu mentari bersinar terik hingga senja tak menurunkan indahnya mega jingga.
Berjalan diantara nisan-nisan dingin dan beku
Diantara nama-nama besar pilar nusa

Aku memperhatikannya. Setiap bentuk wajah yang tak sama skali membuatku terpesona
Apa yang membuat mata ini betah duduk diantara kedua matanya?
Entahlah....
Tapi cerah sunggingkan pelangi pribadinya

Kami mencari..
Mencari diantara manusia-manusia yang telah memeluk abadi
Sang filsuf sejati yang kini telah berumah tanah

Ia berjongkok disamping makam.
Menunduk dan berdoa. Akupun terdiam...
Hati ini tak tertarik untuk berlama-lama menunduk dan mendoa seperti dirinya
Namun, malah asik berpaling dam putar haluan pada wajahnya,
Jiwanya yang sedang menunduk hikmat...
Maafkan aku

Ku coba selami lagi...
Kemudian menghardik..
Siapa dia? Hingga berani membawa hatiku pergi?
Hingga jiwa hanya bisa setengah rasakan cinta dan yang setengah lagi didera pilu luar biasa?

Lima menit bersela..matanya membuka
Hening selesai, nisan ia pegang, caranya ucapkan perpisahan

Kami beranjak..putar mata berkeliling
Aku berharap ia kan menarik lenganku dan duduk melihat senja kebiruan
Mungkin sebentar lagi langit berkenan tunjukkan pelangi jingga
Namun dengan sigap ia membawaku menuju sebuah gedung dimana ratusan orang menyesaki
Dengan kepentingan masing-masing
Orang-orang yang memuja pencitraan daripada fungsi.
Post Modernis!!

Dalam sekejap kami berdua bersama puluhan orang lainnya berkerumun dengan gelap. Mata terfokus pada sebuah layar besar

Suhu udara dalam ruangan saat itu tidak begitu dingin
Hingga tak ada alasan untukku menggigil mencari perhatian
Sebuah pelukkan hangat hatinya

Gelap berganti nuansa
Kini lebih sepi ..... lebih tenang
Kami duduk bersampingan, dipisahkan sebotol air mineral

Kutengok sesaat
Lagi...
Kulihat wajah yang sama skali tak buatku terpesona
Dan makin bingung...
Apa yang buat hati ini betah duduk diantara jiwa bimbangnya?

Bulan separuh
Indah dan benderang
Pemandangan pelangi jingga tak jua kudapatkan
Namun berganti langit berbintang
Ditemani semilir dingin angin malam

Aku ingat!!
Kami berdebat waktu itu
Mengenai rokok!!
Hal yang paling tak bisa kutolerir
Apapun alasannya...

Kubela habis-habisan pemahamanku yang setengah
Dan ia pun juga
Sambil menghisap lintingan tembakau modifikasi pabrik
Mati-matian ia coba beri pemahaman mengenai rokok pada otak kiriku
Sedikit memaksa menurutku..
Setelah itu bertengkar....
Romantis!!!

Malam memeluk larut
Pemandangan pelangi jingga makin tak kudapatkan
Tapi langit berkenan berikan pengganti
Sesosok yang sama skali tak buatku terpesona

Tapi, apa yang membuat jiwa ini betah menunggu jiwanya yang sederhana?

Biar langit jingga yang mendeskripsikannya
Dalam betah mataku berlama-lama duduk
Diantara kedua matanya.

Retorika Cinta


March 5, 2009 at 8:05pm


Mereka berkata’jangan’pada cinta
Namun aku malah berlari ke arahnya
Apa daya bunda!!
Hatiku kini meregang nyawa

Tak usah kau sangkal adanya cinta
Ketidakberdayaanmu merupakan kekuatan kalbu
Hati tidak hanya akan terluka krenanya
Tapi juga tertawa melepas asa

Hei anak muda!!!
Cinta, cinta dan cinta saja yang berputar di kepalamu!!!
Sadar atau tidak, kau kan buat erosi dan berakhir pada longsornya helai-helai rambutmu!!!
Pendarkanlah pandangmu!!!
Cinta...
Apa cinta..
Persetan dengannya...
Tai kucing itu cinta...
mampu kau bergurau dengannya? Atau makan dengan kehampaannya?
Piring jiwamu akan kosong dengan keterawangan cinta..
Lalu kaukan mati tak berdaya...

Apa seperti itu yang namanya cinta?
Tak kumengerti pandanganmu tentangnya....
Aku lihat indah..mengapa kau bilang hampa?
Harum baunya bagai kesturi...mengapa kau hardik dengan kata tai kucing...
Ah....kurasa kaulah yang terinfeksi racun cinta kemudian salah menfsirkannya.
Kasihan sekali kau tuan!!
Kau minum pil dengan mengunyahnya...menelan racun bak madu...
Cinta kau tafsirkan salah...
Kemudian sekarang malah menjadi seorang yang apatis...

Biarkanlah...toh itu yang kurasa...
Dunia hanya selebar dimana kakimu kau pijakan tuan!!!
dan inilah daratan cinta yang kupijak...
getir....hampa...merana..itulah dunia cinta yang kurasa..

pengalamanmu bodoh!!!!duniamu sempit akan cinta...

biarlah...sebab dunia tak’kan seru tanpa retorika cinta....

My Letter


Jakarta, 25 Januari 2009

Saya mungkin tidak begitu pandai merangkai kata, namun tak ada salahnya saya mencoba untuk mengungkapkan/ mengekspresikan semuanya lewat lembaran-lembaran kertas layaknya abad pertengahan. Entah konteks atau pandangan seperti apa yang saya pakai dari abad penuh peristiwa itu, namun paksaan teman yang terus menerus membuahkan lembaran yang sedang anda baca sekarang.
Ini surat pertama yang saya buat, jadi mungkin sedikit bingung mencari topik pembicaraan, yang saya tau banyak peristiwa besar terjadi/terungkap melalui lembaran-lembaran kertas yang dibubuhi tinta hingga ia berbicara. Masih ingat dengan Kartini? Sudah pasti anda ingat.
Sekarang mungkin sudah jaman digital dan menurut anda surat menyurat merupakan hal yang membosankan kendati masih digunakan pada acara-acara formal. Namun perlu anda ketahui banyak kekuatan-kekuatan tercipta dari rangkaian tulisan kata-kata dan banyak hal yang dapat diungkapkan lewat surat lebih daripada sms. Karena itulah surat kabar masih bertahan dan tidak ketinggalan penggemar.
Perasaan lega saat menuliskan semua, serta perasaan berdebar saat menunggu jawaban surat yang memakan waktu adalah sensasi yang mampu ditimbulkan surat lebih dari email atau sms.
Jadi sudikah anda membantu saya untuk merasakan sensasi tersebut? Dengan kesediaan penuh tentunya, sebab saya tidak mau membuat anda tertekan dengan surat-surat saya.
Setidaknya saya tau kabar anda lewat kata-kata yang lebih banyak. Andapun dapat berbasa-basi tanpa takut kehabisan pulsa.
Saya menunggu balasan surat dari anda guna merasakan sensasi carik-carik kertas bertinta yang berbicara.




Salam,



Saya.

Pandang, Dengar dan Rasakan

March 12, 2009 at 10:27am

Diam…

Sssst..
jangan ucapkan kata
penambah duka
Tutup
tutup mata yang terbuka
jangan pandang
jangan coba

Buka
buka pintu-pintu
yang tertutup rapat
deriknya kan buat tersentak, menyalak
Rasakan dulu apa yang kami rasa
buanglah dulu amarah dan simpan dulu cacian untuk kami
karena....
pandanganmu tanpa merasakan keberadaan kami
hanya rasa jijik yang kan kau
lontarkan kesini.

Jadi,
pandang, dengarkan kami dengan hati
rasakan kami dari sudut lain dunia
kau kan tau dengan sendirinya
bahwa kami tetap manusia

Alunan lagu dan untaian kata yg sering kau dengar
di perempatan jalan, bis kota atau kau kan mendengarkannya kala bersantap siang
itulah kami, lagu kami, syair kami
silahkan acuhkan atau biarkan
tapi jangan berikan kami untaian kata
yang hanya cocok diterima batu tak bernyawa, walau tak menyangkal kami sering menerimanya

Pandang, dengarkan kami dengan hati
rasakan kami, keberadaan kami
karena kami yang tinggal disini, hanya punya langit dan bumi
berharap ada cinta sejati yang mau merengkuh kami
Merasakan kami dengan hati
bagian dunia ini
kau kan tau dengan sendirinya
bahwa kami manusia

“dedicated for street children”