Minggu, 26 Januari 2014

4 Januari 2008


Saat itu mentari bersinar terik hingga senja tak menurunkan indahnya mega jingga.
Berjalan diantara nisan-nisan dingin dan beku
Diantara nama-nama besar pilar nusa

Aku memperhatikannya. Setiap bentuk wajah yang tak sama skali membuatku terpesona
Apa yang membuat mata ini betah duduk diantara kedua matanya?
Entahlah....
Tapi cerah sunggingkan pelangi pribadinya

Kami mencari..
Mencari diantara manusia-manusia yang telah memeluk abadi
Sang filsuf sejati yang kini telah berumah tanah

Ia berjongkok disamping makam.
Menunduk dan berdoa. Akupun terdiam...
Hati ini tak tertarik untuk berlama-lama menunduk dan mendoa seperti dirinya
Namun, malah asik berpaling dam putar haluan pada wajahnya,
Jiwanya yang sedang menunduk hikmat...
Maafkan aku

Ku coba selami lagi...
Kemudian menghardik..
Siapa dia? Hingga berani membawa hatiku pergi?
Hingga jiwa hanya bisa setengah rasakan cinta dan yang setengah lagi didera pilu luar biasa?

Lima menit bersela..matanya membuka
Hening selesai, nisan ia pegang, caranya ucapkan perpisahan

Kami beranjak..putar mata berkeliling
Aku berharap ia kan menarik lenganku dan duduk melihat senja kebiruan
Mungkin sebentar lagi langit berkenan tunjukkan pelangi jingga
Namun dengan sigap ia membawaku menuju sebuah gedung dimana ratusan orang menyesaki
Dengan kepentingan masing-masing
Orang-orang yang memuja pencitraan daripada fungsi.
Post Modernis!!

Dalam sekejap kami berdua bersama puluhan orang lainnya berkerumun dengan gelap. Mata terfokus pada sebuah layar besar

Suhu udara dalam ruangan saat itu tidak begitu dingin
Hingga tak ada alasan untukku menggigil mencari perhatian
Sebuah pelukkan hangat hatinya

Gelap berganti nuansa
Kini lebih sepi ..... lebih tenang
Kami duduk bersampingan, dipisahkan sebotol air mineral

Kutengok sesaat
Lagi...
Kulihat wajah yang sama skali tak buatku terpesona
Dan makin bingung...
Apa yang buat hati ini betah duduk diantara jiwa bimbangnya?

Bulan separuh
Indah dan benderang
Pemandangan pelangi jingga tak jua kudapatkan
Namun berganti langit berbintang
Ditemani semilir dingin angin malam

Aku ingat!!
Kami berdebat waktu itu
Mengenai rokok!!
Hal yang paling tak bisa kutolerir
Apapun alasannya...

Kubela habis-habisan pemahamanku yang setengah
Dan ia pun juga
Sambil menghisap lintingan tembakau modifikasi pabrik
Mati-matian ia coba beri pemahaman mengenai rokok pada otak kiriku
Sedikit memaksa menurutku..
Setelah itu bertengkar....
Romantis!!!

Malam memeluk larut
Pemandangan pelangi jingga makin tak kudapatkan
Tapi langit berkenan berikan pengganti
Sesosok yang sama skali tak buatku terpesona

Tapi, apa yang membuat jiwa ini betah menunggu jiwanya yang sederhana?

Biar langit jingga yang mendeskripsikannya
Dalam betah mataku berlama-lama duduk
Diantara kedua matanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar