Selasa, 03 April 2012

Dae Jang Geum; Budaya dalam Sebuah Drama

gambar: www.indowebster.web.id
Dae Jang Geum. Namanya mungkin tidak asing lagi bagi para pecinta drama korea di Indonesia. Jewel in the Palace merupakan judul drama yang memaparkan kisah hidup Dae Jang Geum. Film mengklaim terinspirasi dari kisah nyata sejarah seorang dokter wanita pertama di Korea. Jang Geum kecil dan keluarganya hidup dalam pelarian sebagai buronan istana. Namun, suatu hari karena kesalahan Jang Geum, sang ayah ditangkap. Jang Geum kecil dan ibunya pun melarikan diri. Namun sayang sang ibu terluka parah dan akhirnya meninggal. Jang Geum yang hidup sendiri akhrinya tumbuh menjadi gadis cantik yang cerdas. Ia juga berhasil masuk ke istana dan menjadi dayang. Roman kehidupannya yang berliku akhirnya membawa Jang Geum menjadi perawat istana yang berujung pada pengangkatan dirinya sebagai seorang tabib istana.

Cerita singkat tersebut dikatakan berdasarkan kisah nyata sejarah tabib wanita istana pertama di Korea. Sedangkan dalam sejarah, nama Dae jang Geum memang tercatat dalam Babad Dinasti Joseon serta dokumen medis dari masa itu. Dinasti ini memang terkenal selalu mencatat hal-hal bersejarah pada masanya. Kendati demikian, deskripsi dan rujukkan mengenai kisah Dae Jang Geum sangat sedikit dan singkat. Bahkan beberapa menilai bahwa sosok Dae Jang Geum merupakan sosok rekaan yang diperuntukkan para wanita dan perawat saat itu agar terpacu semangatnya. 

gambar: my.opera.com
Dae Jang Geum sendiri sebagai sebuah drama kolosal, menjadi salah satu drama yang sukses. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara. Kemasan yang apik dan sentuhan budaya Korea yang khas mampu memanjakan para pemirsa. Adat-adat Korea, terutama pada dinasti Joseon, memang ditampilkan dengan baik. Terbukti dengan scene penuh pada adegan memasak. Scene memasak amat detil diperlihatkan. Mulai dari pemilihan bahan makanan, manfaat hingga cara memasaknya yang khas Korea. Melalui drama ini, Korea berhasil memperkenalkan budayanya dengan cara yang populis namun tidak menghilangkan aspek kualitas sinematografinya. Tidak berniat menganggungkan, tetapi drama Korea memang kerap memerhatikan detil-detil dalam tiap adegan. Kendati masih terdapat drama yang juga seperti sinetron biasa. Namun mereka selalu berbenah, terutama yang menyerempet budaya asli dan sejarah.

gambar: www.asiaenglish.visitkorea.or.kr
Banyak hal dari tren drama Korea Selatan ini yang kiranya dapat menjadi referensi utama sinetron Indonesia. Proses reading dan riset menjadi penentu kualitas drama. Tetapi sayangnya, sinetron Indonesia masih mengesampingkan hal itu demi keuntungan praktis yang cenderung berjangka pendek. Contohnya proses reading yang kadang tidak dilakukan dengan maksimal, hingga alur cerita yang cenderung membosankan. Sedangkan yang dapat dibanggakan adalah beberapa sinetron besutan Deddy Mizwar dengan Kiamat Sudah Dekat, Demi Waktu dan lain-lain. Sinetron berkualitas yang tidak menjemukkan dan amat nyaman di mata. Kehadiran FTV juga menjadi penyegar mata pemirsa. Tetapi apakah hal tersebut akan diikuti sinetron lainnya? Sinetron-sinetron mainstream yang hanya menayangkan mimpi dan membentuk realitas yang cederung aneh dan asing di mata pemirsa Indonesia. 

disadur dari berbagai sumber.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar