Senin, 28 November 2011

Komunikasi Simbolik yang Terdegradasi Analisis Nilai Filosofis Tradisi Tedhak Sinten

Tedhak sinten adalah suatu tradisi yang sarat komunikasi ritual. Namun tradisi ini tidak hanya berhenti pada seremonial semata. Nilai-nilai folosofis yang disimbolkan melalui benda-benda yang ada dalam tiap tahapannya, merupakan unsur penting dalam rangka doa dan harapan. Tedhak sinten sebagaimana kecenderungan pemikiran Timur, memosisikan alam sebagai subjek dengan memperkenalkan sang anak dengannya. Tetapi, perkembangan teknologi informasi yang membuka sekat-sekat dunia (globalisasi) menawarkan nilai baru yang berdampak pada terdegradasinya nilai-nilai yang berdiri. Hal tersebut berimbas pada Tedhak sinten yang kini tidak hanya jarang dilakukan hingga nyaris punah, tetapi makna-makna yang terkandung di dalamnya tidak lagi diaplikasikan dalam kehidupan sosial. Perkembangan teknologi informasi tersebut memberi peran pada media global dalam menawarkan nilai baru kepada masyarakat Indonesia. Konsumsi yang tidak disertai dengan filterisasi oleh individu mengakibatkan kecenderungan Timur yang dianut sebagian besar rakyat Indonesia bergeser pada kecenderungan Barat. Pergeseran tersebutlah yang membuat nilai-nilai filosofis dalam Tedhak sinten terdegradasi sedemikian rupa.




Dengan melihat fenomena tersebut, penulis mencoba menganalisis lunturnya pemikiran Timur di Indonesia dengan Tedhak sinten sebagai representasi. Analisis akan dikaitkan dengan perkembangan telnologi informasi yang memunculkan globalisasi dengan media global sebagai kanal informasi global.

       Filsafat Sebagai Induk Komunikasi - Will Durant menganalogikan filsafat sebagai suatu pasukan marinir yang merebut pantai. Setelah pantai berhasil direbut barulah pasukan infanteri dapat mendarat. Pasukan infanteri ialah pengetahuan dan diantaranya adalah ilmu. Durant sepertinya ingin menyatakan bahwa filsafat telah memenangkan tempat berpijak bagi para ilmu, dan karenanya filsafat hingga kini disebut sebagai ibu dari segala ilmu yang telah dilahirkannya[1]. Komunikasi menjadi salah satu kelompok pasukan yang kemudian mempunyai lahan sendiri untuk dikelola. Kendati kini komunikasi telah berdiri sendiri menjadi sebuah disiplin ilmu, namun landasan-landasan filsafat sebagai sebuah pohon besar yang memproduksinya, tidaklah hilang. Landasan-landasan tersebut secara sederhana dapat dilihat dari aspek ontologi, epistimologi dan aksiologi. Dalam filsafat, ketiga aspek tersebut menjadi landasan awal sebuah ilmu untuk dapat dikaji. Pembagian tersebut memudahkan suatu ilmu pengetahuan diterapkan dan dikaji. Singkatnya, ontologi bersandar pada pertanyaan apa (what), epistimologis bersandar pada bagaimana (how) dan aksiologi pada nilai apa (what value)[2].


     Begitu juga dengan komunikasi. Dalam prakteknya, tindakan komunikasi mencakup ontologi, epistimologi dan aksiologi serta bagaimana pemosisian alam semesta dalam posisi subejk-objek oleh manusia. Little John menempatkan aspek epistimologis pada urutan pertama pembahasan mengenai pandangan dan perspektif komunikasi[3]. Setelahnya, ia baru menempatkan ontologi dan aksiologi. Hal ini dikarenakan dalam kajian komunikasi, cara mendapatkan suatu ilmu pengetahuan atau metode menjadi penting. Umumnya terbagi atas kualitatif dan kuantitatif. Cara-cara tersebut menentukan sudut pandang dan perspektif komunikasinya. Sedangkan pembedaan pemosisian subjek-objek terhadap alam, tercermin dalam pembagian filsafat berdasarkan letak geografisnya seperti Timur dan Barat. Pemosisian tersebut akan berpengaruh pada dengan apa individu didasarkan dan bagaimana tindakan komunikasi dilakukan.


    Indonesia sebagai penganut pemikiran Timur, memiliki banyak aktivitas simbolis yang mengandung nilai-nilai filosofis di mana alam diposisikan sebagai subjek yang sama-sama hidup di semesta ini. Tedhak sinten atau tradisi turun tanah salah satunya. Tradisi ini sarat akan nilai filosofis di mana sang anak diperkenalkan dengan alam melalui prosesi simbolik. Selain itu prosesi ini juga sebagai bentuk hubungan harmonisasi manusia dengan alam yang terangkum dalam proses komunikasi ritual.


 Filsafat Timur: Sebuah Harmonisasi Simbolis - Filsafat Timur merupakan salah satu bagian filsafat berdasarkan geografisnya. Filsafat Timur meliputi berbagai pandangan hidup di Asia, namun yang menonjol dari sekian area adalah filsafat China dan India. Keduanya telah berdiri sebelum masehi dan telah melahirkan pandangan yang hingga kini masih dipraktekkan. Namun demikian menurut pandangan Barat, Filsafat Timur dinilai tidak tergolong dalam filsafat karena ketidak-sistematisannya dalam runutan pemikiran dan cenderung dinilai sebagai agama atau kepercayaan. Hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan orientasi rasionalitas dan keberadaan kultur leluhur dan penetapan beberapa pandangan Timur yang kini beralih menjadi agama.
Ciri khas dari Filsafat Timur adalah orientasinya terhadap ajaran hidup atau agama. Kendati beberapa Filsafat Barat juga mendasarkan pemikirannya dengan agama, tetapi caranya jauh berbeda dengan Filsafat Timur. Karenanya pemikiran Timur terkadang sering dianggap sebagai permikiran yang tidak rasional, tidak sistematis dan tidak kritis, dikarenakan orientasinya kepada ajaran agama. Untuk itu pemikiran timur sering dgolongkan sebagai agama daripada suatu filsafat. Anggapan filsafat timur sebagai agama hanya karena pemikirannya yang sangat tradisional dan berlaku harmonis dengan semesta (kosmos). Suatu pemikiran seperti Tao, menjadi agama hanya setelah dilembagakan tetapi jauh sebelumnya, Tao adalah suatu pemikiran mengenai cara hidup manusia. Pemikiran timur memiliki sistematikanya sendiri yang berbeda dengan sistematika barat. Contohnya adalah pemikiran Cina yang sistematikanya berdasarkan pada konstruksi kronologis mulai dari penciptaan alam hingga meninggalnya manusia dijalin secara runut (Takwin, 2001).
Filsafat Timur karenanya berbeda dalam memperlakukan alam dengan Filsafat Barat. Jika Barat memosisikan alam sebagai objek, maka Timur memosisikannya sebagai subjek yang sama-sama hidup di semesta dengan manusia. Karena itulah, proses komunikasi yang terbangun di kawasan Timur banyak yang menggunakan simbol-simbol tertentu dalam rangka memaknai suatu peristiwa dan berkomunikasi dengan lingkungan. Sebagai contoh, dahulu ada seorang cendikia yang melihat petani yang berulang kali mengambil air untuk mengairi sawahnya. Sarjana tersebut menawarkan pembuatan pengairan sederhana dengan bambu, namun jawaban petani itu adalah “Menurut pelajaran yang saya terima, agar dapat membuat alat mekanik, maka harus ada perekaan secara teliti, dan perekaan secara teliti itu memerlukan pikiran yang dibuat-buat. Bila pikiran dibuat-buat, maka watak alami seseorang menjadi tidak lagi polos, dan tidak mungkin ada kedamaian jiwa …. Saya cukup tahu akan macam alat yang anda perkatakan, namun saya malu menggunakannya.”[4].
Pandangan petani tersebut mencerminkan suatu perilaku yang bijaksana dan etika terhadap alam. Alam menjadi subjek yang dengan cara apa manusia memperlakukannya, maka tercermin tabiatnya sebagai manusia. Proses komunikasi terhadap alam terlihat dalam bentuk perilaku yang simbolis. Tidak seperti Barat yang menempatkan komunikasi sebagai suatu proses dialog demi mendapat kebenaran, filsafat Timur lebih menggunakan komunikasi dalam diri dan menyimbolkannya melalui perilaku yang bijak dan jujur baik terhadap diri sendiri dan alam semesta. Komunikasi juga secara umum digunakan dalam proses kanonisasi pemikiran dari satu generasi ke generasi lainnya. Kanonisasi terjadi baik melalui perilaku yang dicontohkan, cerita-cerita seperti mitos ataupun tulisan-tulisan dalam bentuk sastra serta tradisi. Proses penggalian pengetahuan dalam Filsafat Timur terjadi pada aspek bahasa dan simbol yang turun-temurun.
Indonesia sebagai salah satu negara yang secara geografis berada di Timur, jugamemiliki beragam komunikasi sombolis yang tercermin salah satunya dari tradisi turun temurun. Tradisi yang ada diwariskan melalui perilaku masyarakat sebelumnya sebagai suatu peristiwa yang bernilai filosofis dan bermuatan doa serta harapan-harapan ke depan. Tradisi tersebut umumnya sudah berlangsung berabad-abad yang lalu. Namun demikian, istilah filsafat Indonesia masih belum termantapkan, hanya filosofisnya yang bergaung diseantero Nusantara. Turun tanah atau Tedhak sinten menjadi salah satu tradisi yang bermuatan filosofis yang ada dibeberapa daerah di Indonesia.


Tedhak sinten dan Fungsi Ritual Komunikasi - Tedhak sinten dipercaya sebagai warisan dari kepercayaan Hindu di mana pada hari ke empat puluh empat kelahiran sang anak. Tedhak sinten atau lebih populer dengan nama turun tanah merupakan tradisi ritual yang sama penting dengan tradisi lainnya berkaitan dengan kelahiran seorang anak[5]. Tahapan-tahapan dalam tradisi ini mengandung arti tersendiri dan bernilai filosofis, baik sebagai doa untuk orang tua maupun anak. Tradisi ini ialah ketika sang anak dijejakkan kakinya ke tanah sebagai simbol sang anak telah siap berjalan di dunia. Tahapan-tahapan dalam tradisi ini ialah sebelumnya sang anak harus didandani dengan pakaian khas Jawa, untuk perempuan umumnya dirias selayaknya pengantin. Kemudian sang anak akan diarak dengan menaiki andong atau sejenisnya, Sang anak dipindahkan dengan menaiki kuda bersama ayahnya. Kuda Sumbawa yang dikalungi jajanan anak kemudian berjalan menuju lokasi upacara, namun sebelumnya dilakukan pelepasan dua puluh burung merpati sebagai simbol kebebasan dan tujuh puluh balon yang menggambarkan kegembiraan anak-anak.
Sebelum menjejak tanah, sang anak dituntun oleh orang tuanya untuk melangkah di atas cobekan berisi sesaji makanan sejenis dodol dari beras ketan berwarna putih dan merah serta beras kuning. Setelah itu anak dituntun untuk menjejakkan kaki di atas tanah, kemudian sang anak dan ibu dimasukkan kurungan ayam untuk memilih segala rupa mainan di dalamnya. Hal ini menyimbolkan perlindungan terhadap segala gangguan kejahatan terhadap sang anak. Prosesi selanjutnya ialah sang anak dituntun untuk meniti tangga yang terbuat dari batang tebu dan kemudian dibaringkan di atas ayunan. Hal ini menyimbolkan agar jalan hidup yang dijalani sang anak adalah jalan hidup yang manis[6].
Simbol-simbol yang digunakan tersebut merepresentasikan baik doa maupun harapan bagi sang anak. Dalam komunikasi, tradisi tersebut merupakan jenis komunikasi ekspresif di mana komunikasi secara simbolik atau ritual dilakukan untuk menyatakan perasaan terdalam seseorang. Komunikasi ritual merupakan salah satu fungsi dari komunikasi. Komunikasi ritual dilakukan untuk menciptakan perasaan tertib (a sense of order) dalam dunia yang tanpanya akan kacau balau dan. Selain itu ritual juga memeberikan rasa nyaman akan keteramalan (sense of predictability) dalam artian melambangkan doa dan harapan ke depan. Dengan kata lain, penerapan komunikasi ritual ini diperuntukkan agar tercipta keseimbangan sebagaimana yin dan yang dalam pandangan timur[7]. Hal inilah yang disebut memosisikan alam sebagai subjek yang dapat beraktivitas layaknya makhluk hidup. Tedhak sinten merupakan komunikasi ritual yang merepresentasikan komunikasi manusia dengan Tuhan dan semesta terkait lahirnya seorang anak dan kesiapannya mejejakkan kaki di dunia. Selayaknya memperkenalkan individu baru yang nantinya akan bergaul dengan semesta.
Tetapi, sejauh apa komunikasi ritual yang bermakna filosofis ini mampu bertahan? Dedy Mulyana dalam Pengantar Ilmu Komunikasi menyatakan bahwa ritual sapai kapanpun akan selalu dibutuhkan, namun bentuknya akan selalu berubah-ubah. Dengan demikian, ketahanan ritualnya akan terjaga hingga sekarang, terbukti tradisi ini masih dilakukan oleh kebanyakan orang Indonesia, namun nilai filosofis yang ada terdegradasi oleh individu itu sendiri. Perkembangan jaman tidak dapat dinafikan, telah menawarkan nilai baru kepada manusia Indonesia. Globalisasi sebagai suatu gejala internasional telah membuka sekat-sekat batas geografis yang dengannya memasukkan hal-hal baru dari belahan dunia lain yang mungkin berbeda jauh dengan nilai-nilai yang telah lama mengakar di Nusantara. Degradasi nilai tidak terelakan, kendati ritual fisik masih terus dijalankan
Globalisasi dan Nilai Baru - Menjelaskan globalisasi mungkin merupakan hal yang sulit dan menjadi perdebatan tersendiri dikalangan ahli, karena kompleksitasnya dan keluasan elemen yang dicangkupnya. Globalisasi merupakan hal yang dipikirkan melalui suatu aturan proses dinamisme modernitas secara intrinsik dan konsep yang mengacu pada pengkompresan dunia dan intensifikasi kesadaran terhadap dunia secara keseluruhan[8]. Dengan dunia yang terkompres, maka proses komunikasi cenderung menjadi global. Intensifikasi dari hubungan sosial tertentu meningkat dari suatu proses interaksi yang konstan yang terbilang baru.
Globalisasi umumnya menimbulkan banyak hal yang menurut para ahli menjadi sesuatu yang urgent untuk didiskusikan guna mendapatkan teori serta metodelogi yang pas dalam menjelaskan globalisasi sebagai suatu paradigma baru dalam masyarakat dan media. Mengapa? Hal tersebut dikarenakan akivitas yang mulai mengglobal serta proses transformasi informasi yang lebih konstan dari sebelumnya, sehingga media juga merasa perlu untuk mengglobal sesuai dengan adanya permintaan sosial baru akan informasi.
Melalui penjelasan tersebut, peran media global menjadi penting dalam membentuk suatu tatanan dan nilai baru. Informasi yang hilir mudik menjadi sulit untuk terfilter dan kemudian dikonsumsi sebagai sesuatu yang baru tanpa mengindahkan faktor budaya dan sebagainya. Dinamisme modernitas Barat masuk dan dikonsumsi sebagai nilai baru yang dalam perjalanannya kini telah menggeser nilai sebelumnya. Globalisasi disebut McLuhan sebagai proyek pembentukkan world village atau desa dunia di mana antara satu belahan dunia menjadi sangat dekat dengan belahan dunia lainnya. Media global menjadi mediator dalam sistem komunikasi desa dunia tersebut.
Dengan demikian, globalisasi sebagai suatu gejala yang didukung oleh perkembangan teknologi informasi, telah memasukkan nilai-nilai baru yang jauh berbeda dengan nilai yang telah berdiri sebelumnya. Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa antara pemikiran Barat dan Timur amatlah berbeda yang membuat mereka memiliki tatanan nilai dan norma yang berbeda pula. Namun, dengan mudahnya akses informasi, nilai-nilai tersebut masuk tanpa filter yang berarti. Cara konsumsi manusia Indonesia yang terbilang ceroboh, mendukung proses terserapnya nilai-nilai tersebut dan memaksa nilai-nilai yang berdiri menjadi terdegradasi dan termumifikasi.


Degradasi Filosofis: Tedhak sinten Sebagai Ritual Mitos - Sebagaimana disebutkan dalam poin-poin sebelumnya, bahwa nilai-nilai yang dipunyai Indonesia memiliki kecenderungan Timur. Hal ini terlihat dari banyaknya ritual atau tradisi simbolik sebagai suatu aktivitas komunikasi yang filosofis. Kecenderungan tersebut membuatnya secara otomatis berbeda dengan Barat. Tidak menafikan pengadaptasian pemikiran Barat oleh sekelompok individu, namun sejarah membuktikan bahwa tradisi tersebut memang ada. Dengan demikian, ada aturan tertentu ketika seorang individu ingin mengaplikasikannya secara sosial, karena kecenderungan Timur menjadi dominan di masyarakat.
Nilai-nilai filosofis dalam Tedhak sinten dahulu termanifestasi dengan baik dalam diri individu yang melakukannya. Nilai-nilai tersebut diresapi sebagai ruh yang hidup dalam diri yang kemudian termaterialisasikan melalui perilaku sehari-hari. Namun sekarang dengan terbukanya akses terhadap nilai baru (khususnya Barat), membuat manifestasi beralih menjadi mitos yang berdiri sebagaimana patung. Prosesi tetap dilakukan, ritual tetap dijalankan, namun hal tersebut hanya dilihat semata sebagai warisan yang dimitoskan. Dalam artian, manifestasi nilai-nilai dalam diri yang kemudian diaplikasikan secara sosial telah hilang. Segala bentuk komunikasi ritual beralih pada ritual menonton, ke salon, belanja dan hal-hal lain yang konsumtif. Ritual itulah yang hidup sebagai ruh dalam jiwa manusia Indonesia.
Keberadaan nilai baru tersebut tidak lain karena perkembangan teknologi informasi yang kini telah mengglobal (globalisasi). Segala sekat terbuka. Akan menjadi positif ketika hal tersebut dibaca dalam posisi yang negosiatif, namun akan menjadi bencana ketika dibaca dalam posisi yang dominatif. Globalisasi yang muncul akibat dinamisme modernisasi menawarkan nilai baru yang cenderung instan dan ke-barat-baratan. Hal tersebut menjadi urgen ketika dikaitkan dengan identitas kebangsaan Nusantara.
Tedhak sinten kini jarang dilakukan oleh masyarakat. Jikapun ada, beberapa tahapan dihapus atau tidak dilakukan atas nama praktis dan cepat. Bentuk fisik tetap lestari, namun nilai filosofis telah terdegradasi. Globalisasi menjadi salah satu faktor dari sekian faktor yang membuat Tedhak sinten kini hanya menjadi objek wisata untuk memuaskan mata wisatawan (khususnya wisatawan asing). Pelestariannya oleh pemerintah hanya berhenti pada asas pragmatis dan menyampingkan asas filosofis Timur yang cenderung menitikberatkan proses. Komunikasi simbolik sebagai ciri filsafat Timur memang ada, namun simbol tersebut berganti rupa dengan instan dan pragmatis. Dengan kata lain, harmonisasi simbolik antara makhluk hidup dan alam terdegradasi karena posisi subjek (pemikiran Timur) telah bergeser oleh posisi objek (pemikiran Barat).

oooOOooo

Daftar Pustaka dan Referensi Bacaan

Buku:

Ardianto, Elvinaro dan Bambang Q-Anees, M.Ag, (2007). Filsafat Ilmu Komunikasi, Jakarta: Simbiosa Rekatama Media.

Greel, H.G (1989). Alam Pikiran Cina; Sejak Confusius sampai Mao Zedong (Terj.), Yogyakarta: Triara Wacana Yogya.
Littlejohn, S.W. (2009). Theories of Human Communication, fifth edition. Chicago, IL: Wordsworth.
Mulyana, Deddy (2007). Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Rosda Karya.
Suriasumantri, Jujun S. (2005). Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer.  Jakarta: Sinar Harapan.
Sparks, Colin (2007). Globalization and The Mass Media. London: Sage Publication., Ltd
Takwin, B. (2009).   Filsafat Timur: Sebuah Pengantar ke Pemikiran-pemikiran Timur.  Cetakan ke-empat.  Yogyakarta: Jalasutra.

Website:

www.kesultananasahan.com
www.indosiar.com/ragam/80614/tedhak-sinten-tradisi-bayi-turun-tanah




[1] Elvinaro Ardianto, dan Bambang Q-Anees, 2007, Filsafat Ilmu Komunikasi, Jakarta: Simbiosa Rekatama Media. hlm. 49
[2]   Lih. Jujun S. Suriasumantri, (2005). Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer.  Jakarta: Sinar Harapan. Bab III, IV dan VI.
[3]   Lih, Littlejohn, S.W. (2009). Theories of Human Communication, fifth edition. Chicago, IL: Wordsworth. hlm. 32 -37.
[4] H.G Greel, 1989, Alam Pikiran Cina; Sejak Confusius sampai Mao Zedong (Terj.), Yogyakarta: Triara Wacana Yogya. hlm. 5
[5]   www.kesultananasahan.com
[6] www.indosiar.com/ragam/80614/tedhak-sinten-tradisi-bayi-turun-tanah
[7] Deddy Mulyana, 2007, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Rosda Karya. hlm. 30
[8] Colin Sparks, 2007, Globalization and The Mass Media. London: Sage Publication., Ltd. hlm. 128.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar